Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis Produksi Hollywood Dalam Sejarah, Pekerja Terdampak Parah

Tahun 2026 menjadi masa paling suram dalam sejarah produksi film Hollywood, dengan penurunan aktivitas syuting hingga 50 persen dan ratusan ribu pekerja terancam kehilangan pekerjaan akibat krisis beruntun dan transformasi teknologi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 12.00 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 3x dibuka
Krisis Produksi Hollywood Dalam Sejarah, Pekerja Terdampak Parah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Industri film dan televisi di Hollywood kini menghadapi krisis produksi terdalam dalam sejarah modern, dengan aktivitas syuting di Los Angeles melambat drastis pada musim semi 2026. Data dari Film LA menunjukkan jumlah hari pengambilan gambar untuk film dan serial TV turun hingga 40–50 persen dibandingkan rata-rata lima tahun sebelumnya. Kondisi ini menggambarkan penurunan yang tak pernah terjadi sejak era pra-2019, menandai pergeseran struktural yang mendalam di sektor hiburan.

Banyak pekerja di lini produksi, mulai dari kru teknis hingga vendor pendukung, mengalami kesulitan ekstrem dalam mencari pekerjaan. Jeremy Whalon, seorang kurir logistik produksi, mengaku hanya bekerja tiga hari sepanjang tahun ini. Ia memilih tetap bertahan di bidang yang sama meski kondisi ekonomi menekan, karena tak ingin berpindah ke sektor lain. Hal serupa dirasakan Corri Levelle, seorang florist yang terdampak langsung dari mogok kerja penulis dan aktor pada 2023, hingga membatalkan rencana pensiun dan mengalami gangguan tidur akibat tekanan finansial.

Ancaman besar lain datang dari rencana merger antara Paramount dan Warner Bros. Discovery senilai US$110 miliar. Laporan Departemen Peluang Ekonomi Los Angeles County memperkirakan penggabungan ini dapat menghilangkan lebih dari 10 ribu pekerjaan, termasuk 4.500 posisi di sektor film dan televisi dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, industri kecil pendukung dan ekonomi lokal juga terancam terpuruk. Gugatan antimonopoli dari Jaksa Agung California dan 11 negara bagian lainnya telah dilayangkan, menilai merger ini dapat menekan persaingan dan mengurangi kualitas konten.

Di tengah tekanan tersebut, ancaman dari perusahaan terhadap pemindahan pusat produksi ke luar California makin menguat. CEO Paramount David Ellison mengancam akan pindah studio ke Texas, Georgia, atau Tennessee jika negosiasi tidak mencapai kesepakatan, demi menghemat pajak hingga US$500 juta per tahun. Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin menggantikan peran manusia dalam produksi. Di sektor animasi, AI mampu mengurangi biaya produksi hingga 90 persen dengan mengotomatisasi proses storyboard, rigging karakter, hingga pembersihan pascaproduksi. Hasilnya, sektor perfilman dan perekaman suara di LA County telah kehilangan 6.700 pekerjaan sejak awal tahun hingga Mei 2026.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya