Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Laba Bank Jatim Melonjak 53% di Semester Pertama 2026

Bank Jatim mencatat laba bersih konsolidasi Rp1,2 triliun pada semester I-2026, tumbuh 53,4% dibanding tahun sebelumnya, meski DPK mengalami kontraksi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 22.34 WITA·👁 5 orang membaca· 4 hari ini · 11x dibuka
Laba Bank Jatim Melonjak 53% di Semester Pertama 2026📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Jatim berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,2 triliun pada semester pertama tahun 2026, menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 53,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini diraih di tengah tekanan pada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengalami penurunan akibat berkurangnya transfer ke daerah. Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menegaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari adaptasi strategis terhadap dinamika ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Upaya peningkatan kinerja dilakukan melalui penguatan tata kelola perusahaan, manajemen risiko yang lebih ketat, optimalisasi ekosistem bisnis, pengembangan sumber daya manusia, akselerasi digitalisasi, serta penguatan sinergi dalam Kelompok Usaha Bank (KUB). Winardi menyebut bahwa meski tantangan global seperti ketegangan geopolitik, perang dagang, dan volatilitas harga komoditas masih menghantui, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional hingga Juni 2026 mencapai 5,29% secara tahunan, sementara Jawa Timur tumbuh 5,84% dan menyumbang 14,34% terhadap total ekonomi nasional.

Pertumbuhan aset konsolidasi mencapai Rp162 triliun, naik 37,16% dari tahun sebelumnya, didorong oleh peningkatan aset produktif. Penyaluran kredit mencapai Rp111 triliun, meningkat 41,68% secara tahunan. DPK konsolidasi berada di angka Rp120 triliun, tumbuh 31,47% yoy, yang turut mendorong pendapatan bunga bersih mencapai sekitar Rp4,6 triliun, naik 39,5% dibanding periode sama tahun lalu. Direktur Keuangan & Tresuri, Wahyukusumo Wisnubroto, menegaskan bahwa sinergi internal dan implementasi aksi korporasi menjadi kunci utama pertumbuhan kinerja.

Di tingkat bank only, hingga Juli 2026, total aset mencapai Rp98 triliun, penyaluran kredit sebesar Rp66,4 triliun, dan DPK sebesar Rp72,9 triliun. Direktur Ritel & Syariah, Tonny Prasetyo, menyampaikan bahwa penyaluran kredit mengalami kontraksi 2,6% secara tahunan, dipengaruhi oleh konservatisme daya beli masyarakat. Namun, segmen kredit konsumtif berbasis payroll tetap menunjukkan prospek positif. Untuk menjaga kualitas aset, bank menerapkan pendekatan preventif dan kuratif, termasuk evaluasi berkala, peningkatan kompetensi tim, restrukturisasi, dan pengelolaan kredit bermasalah secara sistematis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya