Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Lima Tanda Orang yang Terlalu Percaya pada Cinta Romantis

Orang yang terlalu idealis dalam cinta sering mengabaikan tanda bahaya dalam hubungan karena terjebak dalam narasi dongeng cinta.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 00.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Lima Tanda Orang yang Terlalu Percaya pada Cinta Romantis
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seseorang yang cenderung jatuh cinta dengan cepat dan langsung membayangkan masa depan bersama pasangan bisa jadi termasuk dalam kategori yang disebut hopeless romantic. Kecenderungan ini muncul dari cara pandang yang melihat cinta sebagai sesuatu yang sempurna dan utuh, sering kali didasarkan pada film, buku, atau lagu romantis yang menggambarkan hubungan ideal. Namun, hal ini bisa mengaburkan kemampuan untuk mengenali tanda bahaya dalam hubungan.

Prioritas utama dalam hidupnya menjadi menemukan pasangan romantis, bahkan hingga menempatkan hubungan di atas tujuan pribadi lain seperti karier, hobi, atau pertumbuhan diri. Dalam banyak kasus, hal ini menciptakan ketergantungan emosional yang berpotensi membahayakan kesehatan mental jika hubungan yang dibangun tidak seimbang atau tidak saling menghargai.

Kebiasaan lain yang kerap muncul adalah membayangkan pernikahan secara detail, bahkan saat belum memiliki pasangan. Mulai dari desain gaun pengantin hingga dekorasi acara, semua direncanakan dengan penuh harapan. Kebiasaan ini juga terlihat dari preferensi budaya populer—film, buku, dan musik romantis menjadi pilihan utama, mencerminkan kecenderungan untuk terus terpapar narasi cinta yang sempurna.

Sering kali, mereka mengalami cinta yang tidak berbalas, namun tetap sulit move on karena terlalu mudah terpikat pada seseorang tanpa mempertimbangkan kesiapan atau ketertarikan pasangan. Bahkan hal-hal kecil seperti hari jadian atau memakai aksesori serasi dianggap penting untuk dirayakan, sebagai bentuk pembuktian komitmen yang belum tentu didukung oleh realitas.

Yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan melihat hal positif di tempat yang seharusnya menjadi peringatan. Misalnya, ketika pasangan memiliki riwayat hubungan yang buruk, mereka justru yakin bahwa hubungan ke-7 akan menjadi yang terbaik. Sikap optimis ini bisa menjadi kekuatan, namun juga menjadi kelemahan jika mengabaikan red flag yang nyata.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya