Lima Tanda Orang yang Terlalu Percaya pada Cinta Romantis
Orang yang terlalu idealis dalam cinta sering mengabaikan tanda bahaya dalam hubungan karena terjebak dalam narasi dongeng cinta.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 00.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Seseorang yang cenderung jatuh cinta dengan cepat dan langsung membayangkan masa depan bersama pasangan bisa jadi termasuk dalam kategori yang disebut hopeless romantic. Kecenderungan ini muncul dari cara pandang yang melihat cinta sebagai sesuatu yang sempurna dan utuh, sering kali didasarkan pada film, buku, atau lagu romantis yang menggambarkan hubungan ideal. Namun, hal ini bisa mengaburkan kemampuan untuk mengenali tanda bahaya dalam hubungan.
Prioritas utama dalam hidupnya menjadi menemukan pasangan romantis, bahkan hingga menempatkan hubungan di atas tujuan pribadi lain seperti karier, hobi, atau pertumbuhan diri. Dalam banyak kasus, hal ini menciptakan ketergantungan emosional yang berpotensi membahayakan kesehatan mental jika hubungan yang dibangun tidak seimbang atau tidak saling menghargai.
Kebiasaan lain yang kerap muncul adalah membayangkan pernikahan secara detail, bahkan saat belum memiliki pasangan. Mulai dari desain gaun pengantin hingga dekorasi acara, semua direncanakan dengan penuh harapan. Kebiasaan ini juga terlihat dari preferensi budaya populer—film, buku, dan musik romantis menjadi pilihan utama, mencerminkan kecenderungan untuk terus terpapar narasi cinta yang sempurna.
Sering kali, mereka mengalami cinta yang tidak berbalas, namun tetap sulit move on karena terlalu mudah terpikat pada seseorang tanpa mempertimbangkan kesiapan atau ketertarikan pasangan. Bahkan hal-hal kecil seperti hari jadian atau memakai aksesori serasi dianggap penting untuk dirayakan, sebagai bentuk pembuktian komitmen yang belum tentu didukung oleh realitas.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan melihat hal positif di tempat yang seharusnya menjadi peringatan. Misalnya, ketika pasangan memiliki riwayat hubungan yang buruk, mereka justru yakin bahwa hubungan ke-7 akan menjadi yang terbaik. Sikap optimis ini bisa menjadi kekuatan, namun juga menjadi kelemahan jika mengabaikan red flag yang nyata.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


