Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Limbah Gaza Beracun Ancam Kesehatan Israel

Limbah mentah dari Gaza yang terbawa arus laut menyebabkan krisis kesehatan di Israel, memaksa penutupan pabrik desalinasi dan memicu peringatan serius dari pakar lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 07.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Limbah Gaza Beracun Ancam Kesehatan Israel
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Krisis kesehatan lingkungan yang melanda Israel kini berasal dari dampak perang di Jalur Gaza, di mana limbah beracun dan tinja dari reruntuhan infrastruktur sanitasi telah menyebar melalui arus laut. Setiap hari, lebih dari 100.000 meter kubik air limbah tak terolah mengalir ke Laut Mediterania, memicu kontaminasi bakteri dan tumbuhnya alga beracun di perairan Israel. Fenomena ini telah memaksa penutupan berulang pada pabrik desalinasi utama di Ashkelon, menandakan ancaman nyata terhadap pasokan air bersih bagi warga Israel.

Respons pemerintah Israel berupa pembentukan tim khusus oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Dewan Perdamaian untuk menangani krisis ini. Namun, upaya tersebut tergolong terlambat, mengingat dampak lingkungan telah merambat jauh melampaui batas geografis. Peningkatan kadar patogen di perairan tidak hanya membahayakan ekosistem laut, tetapi juga mengancam keamanan pangan, khususnya bagi nelayan yang menangkap ikan di zona maritim yang terkontaminasi.

Puing-puing dari Gaza yang diangkut ke wilayah Israel dan Tepi Barat juga menjadi ancaman lingkungan besar. Pemantauan menunjukkan sekitar 100 truk per hari membawa material berbahaya dari wilayah konflik. Material tersebut mengandung logam berat, asbes, sisa bahan peledak, serta bakteri patogen dari jasad yang membusuk. Pemindahan ini dilakukan tanpa mekanisme pengawasan lingkungan yang memadai, membahayakan kesehatan 700.000 pemukim ilegal di Tepi Barat serta personel yang terlibat dalam operasi pengangkutan.

Para ahli menilai bahwa tindakan ini bukan hanya melanggar protokol lingkungan, tetapi juga merupakan upaya sistematis untuk menghilangkan bukti kejahatan genosida di kuburan massal. Dianne Woodward, manajer Galilee Foundation, menekankan bahwa sejarah telah mencatat bahwa kegagalan mengelola limbah sanitasi dapat memicu wabah. Ia mengingatkan kebijakan serupa pada era 1990-an, saat Yerusalem harus membangun saluran pembuangan untuk mencegah kolera menyebar ke wilayah barat.

“Jika Israel mengabaikan standar lingkungan, maka rakyatnya sendiri akan mengalami dampak yang sama seperti yang dialami warga Gaza—dengan kesehatan terancam dan ekosistem hancur,” tegas Woodward. Krisis ini menjadi bukti bahwa konflik yang tidak diatasi secara manusiawi akan selalu kembali menghantam pelaku dan korban secara bersamaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya