Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Emak-Emak RI Dominasi Investor SBN Ritel di 2025

Sebanyak 38.945 ibu rumah tangga menjadi investor ritel Surat Berharga Negara pada 2025, menempati posisi ketiga dalam kategori pemegang SBN ritel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Emak-Emak RI Dominasi Investor SBN Ritel di 2025
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada tahun 2025, jumlah ibu rumah tangga yang memegang Surat Berharga Negara (SBN) ritel mencapai 38.945 orang, menempatkan mereka di posisi ketiga dalam struktur investor ritel di Indonesia. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa di antara total 428.364 investor ritel, mayoritas berasal dari kalangan pegawai swasta sebanyak 146.714 orang, diikuti wiraswasta dengan 79.051 orang, dan ASN/TNI/Polri sebanyak 35.595 orang.

Pertumbuhan investor ritel terus mengalami peningkatan, terutama pada 2026. Hingga Agustus tahun tersebut, jumlah investor mencapai 289.056 orang, dengan dominasi masih dikuasai pegawai swasta sebanyak 100.163 orang. Wiraswasta menyusul dengan 47.603 investor, sementara posisi ketiga kini ditempati oleh ASN/TNI/Polri sebanyak 25.854 orang, menggeser peran ibu rumah tangga yang berada di posisi ketiga dengan jumlah 25.854 ribu orang.

Dalam hal penerbitan, nilai SUN ritel pada 2025 mencapai Rp67,78 triliun, sedangkan pada 2026 mencapai Rp54,44 triliun. Sementara itu, penerbitan SBSN ritel pada 2025 sebesar Rp84,93 triliun, dan pada 2026 mencapai sekitar Rp40,11 triliun. Peningkatan partisipasi masyarakat, termasuk kelompok ibu rumah tangga, mencerminkan peningkatan kepercayaan terhadap instrumen keuangan negara sebagai instrumen investasi jangka menengah yang aman dan menguntungkan.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa investasi SBN ritel semakin inklusif, tidak lagi terbatas pada kalangan profesional atau pegawai negeri, tetapi juga merambah ke keluarga dan masyarakat umum. Kebijakan pemerintah yang mendorong literasi keuangan dan akses mudah melalui platform digital turut menjadi faktor pendukung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya