Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Low Tuck Kwong Perkuat Kepemilikan Saham Bayan

Direktur Utama Bayan Resources, Low Tuck Kwong, beli kembali 500.000 saham BYAN senilai Rp5,6 miliar, perkuat posisi kepemilikan tanpa ubah kontrol.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 09.23 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 44x dibuka
Low Tuck Kwong Perkuat Kepemilikan Saham Bayan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemegang saham utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong, kembali memperbesar kepemilikannya dengan membeli 500.000 lembar saham biasa pada 13 Oktober 2026. Transaksi dilakukan di pasar sekunder dengan harga Rp11.200 per saham, menelan dana sebesar Rp5,6 miliar. Pembelian ini dilakukan secara langsung dan tidak melibatkan perjanjian pembelian kembali, sesuai laporan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia.

Setelah transaksi, kepemilikan saham Low Tuck Kwong naik menjadi 3,3167 miliar saham, dari sebelumnya 3,316 miliar saham. Meskipun jumlah saham meningkat, proporsi hak suara tetap stabil di level 9,95%, menunjukkan bahwa perubahan kepemilikan tidak mengubah struktur kontrol perusahaan. Manajemen menyatakan bahwa Low Tuck Kwong tetap berstatus sebagai pengendali dan berkomitmen mempertahankan posisi tersebut.

Sebelumnya, pada periode 14 September hingga 8 Oktober 2026, Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, menjual sejumlah saham BYAN kepada PT Jhonlin Baratama—entitas milik Haji Isam. Dalam tiga transaksi, total penjualan mencapai 10.084.088.370 saham atau 30,25% kepemilikan. Harga jual yang tercatat pada 8 Oktober 2026 mencapai Rp2.588 per saham, jauh di bawah nilai pasar, sehingga nilai transaksi mencapai Rp26,1 triliun.

Kini, dengan pembelian kembali saham, Low Tuck Kwong menunjukkan kepercayaan terhadap prospek perusahaan meski terjadi perubahan struktur kepemilikan sebelumnya. Langkah ini menjadi indikasi keberlanjutan strategi jangka panjang di tengah dinamika kepemilikan saham yang kini didominasi oleh entitas baru. Tujuan utama transaksi tetap pada investasi jangka panjang, bukan perubahan struktur pengendalian.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya