Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mahasiswa Rancang Kebijakan Inovatif Atasi Polusi Udara

Mahasiswa dari berbagai kampus menghadirkan solusi kebijakan konkret untuk mengendalikan polusi udara di kawasan perkotaan melalui kompetisi kebijakan nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 11.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mahasiswa Rancang Kebijakan Inovatif Atasi Polusi Udara
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah tim mahasiswa dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia menghadirkan rekomendasi kebijakan terstruktur untuk menangani krisis kualitas udara perkotaan dalam ajang Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026. Kompetisi yang digelar di Jakarta ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengolah data, analisis kebijakan, dan memadukan pendekatan teknis dengan kebutuhan sosial dalam menyusun solusi berkelanjutan. Paparan dilakukan di hadapan dewan juri yang kompeten, mencerminkan tingginya kualitas dan kedalaman pemikiran yang ditampilkan oleh peserta.

Dalam sesi penilaian, para finalis menunjukkan kemampuan menyusun kebijakan berbasis bukti yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan tata ruang. Mereka memaparkan pendekatan yang tidak hanya menyoroti permasalahan, tetapi juga menawarkan mekanisme implementasi nyata, termasuk insentif fiskal, pengawasan emisi berbasis data, dan penataan ruang berkelanjutan. Keterlibatan juri dari berbagai sektor—dari lembaga legislatif hingga lembaga riset—menunjukkan bahwa hasil kompetisi dianggap relevan dan dapat menjadi bahan pertimbangan kebijakan publik.

Tim dari Politeknik Keuangan Negara STAN keluar sebagai pemenang pertama dengan gagasan “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”. Solusi mereka menekankan perlunya pendekatan ganda—mendorong aktivitas ramah lingkungan melalui insentif dan menekan emisi berbahaya melalui sanksi fiskal—dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan infrastruktur di wilayah Jabodetabek. Pendekatan ini dianggap mampu memperkuat efektivitas regulasi yang selama ini terbatas pada sanksi semata.

Juara kedua diraih oleh tim APPA dari Institut Teknologi Bandung dengan rekomendasi “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”. Gagasan ini menyoroti keterbatasan pengelolaan emisi industri di wilayah yang terjebak dalam cekungan alam, di mana polutan sulit terdispersi. Mereka menyarankan pemanfaatan sistem pemantauan berbasis data real-time dan penataan kawasan industri yang memperhatikan faktor topografi, sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kualitas udara jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya