Makan Tengah Malam Picu Gangguan Pencernaan dan Gangguan Tidur
Kebiasaan makan larut malam, terutama dalam porsi besar, dapat mengganggu metabolisme, memicu refluks asam, dan mengganggu kualitas tidur karena tubuh tetap aktif mencerna makanan saat seharusnya beristirahat.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 02.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kebiasaan mengonsumsi makanan di tengah malam, terutama jika dilakukan secara rutin, berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Ahli diet menekankan bahwa waktu optimal untuk makan malam berada antara pukul 17.00 hingga 19.00, atau paling lambat tiga jam sebelum tidur. Ketika makan terlalu dekat dengan jam tidur, proses pencernaan yang seharusnya melambat justru tetap aktif, mengganggu ritme alami tubuh yang disebut sirkadian.
Pada malam hari, aktivitas sistem pencernaan secara alami menurun. Makanan yang dikonsumsi terlambat, terutama dalam jumlah besar, dapat menyebabkan pergerakan usus melambat, berisiko menimbulkan kembung, nyeri perut, dan gangguan buang air besar. Selain itu, berbaring segera setelah makan memperbesar kemungkinan asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan gejala seperti heartburn atau refluks asam.
Kondisi ini diperparah oleh pilihan makanan yang cenderung tidak sehat saat lapar di malam hari. Orang yang makan tengah malam sering kali tidak selektif, memilih makanan instan, cepat saji, atau camilan olahan karena ketersediaan dan kepraktisan. Pola ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan asupan kalori melebihi kebutuhan harian, berkontribusi pada kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2.
Ahli gizi menambahkan bahwa makan larut malam juga dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang bertahap, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi gula atau karbohidrat sederhana. Ketidaknyamanan seperti perut kembung atau rasa panas di dada saat berbaring dapat mengganggu tidur, mengurangi kualitas istirahat. Untuk menghindarinya, disarankan memilih camilan ringan yang mudah dicerna, seperti yoghurt dengan buah, keju dengan biskuit gandum, atau roti gandum dengan selai kacang, bukan makanan olahan atau minuman manis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


