Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Makanan Pesawat Terasa Hambar? Ini Penyebabnya

Kondisi kabin pesawat yang kering, tekanan rendah, dan suara bising memengaruhi indra pengecap, membuat rasa makanan terasa lebih datar selama penerbangan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 17.32 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Makanan Pesawat Terasa Hambar? Ini Penyebabnya📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketika makanan yang biasanya lezat di darat justru terasa datar di pesawat, bukan karena kualitas bahan yang buruk, melainkan karena lingkungan kabin yang memengaruhi persepsi rasa. Pada ketinggian sekitar 30 ribu kaki, kelembapan di dalam pesawat bisa turun hingga 20 persen atau lebih rendah, membuat hidung kesulitan menangkap aroma makanan. Padahal, aroma merupakan komponen utama dalam pengalaman mencicipi makanan.

Selain kekeringan, tekanan udara di dalam kabin yang lebih rendah juga menurunkan sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan asin hingga sekitar 30 persen, menurut penelitian dari Fraunhofer Institute for Building Physics. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan tekanan yang memengaruhi fungsi reseptor rasa pada permukaan lidah, sehingga rasa yang biasanya kuat menjadi samar.

Suara mesin pesawat yang terus-menerus juga turut berperan. Peneliti dari University of Oxford, Charles Spence, menjelaskan bahwa kebisingan tinggi dapat mengganggu persepsi rasa, khususnya rasa asin dan manis, sementara rasa umami dan pedas justru lebih menonjol. Hal ini karena otak menanggapi suara bising dengan mengurangi respons terhadap rasa yang lebih halus.

Untuk mengatasi perubahan rasa ini, koki maskapai melakukan penyesuaian resep secara khusus. Mereka menambahkan bumbu, rempah, dan bahan kaya umami seperti tomat, jamur, dan bayam agar rasa tetap terasa kuat meski di kabin. Makanan juga dipilih berdasarkan ketahanan terhadap proses pendinginan dan pemanasan ulang, serta diuji dalam kondisi kabin yang menyerupai penerbangan.

Proses penyajian makanan yang panjang—mulai dari pengolahan di darat, pendinginan cepat, penyimpanan, hingga pemanasan kembali—juga berdampak pada tekstur dan cita rasa akhir. Namun, alasan utama makanan pesawat terasa hambar bukan karena biaya rendah atau kualitas buruk, melainkan interaksi kompleks antara fisika kabin, persepsi sensorik, dan teknik penyajian yang dirancang khusus untuk menjaga kenyamanan penumpang selama terbang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya