Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mayoritas Perusahaan Indonesia Masih Tangani Gangguan IT Secara Reaktif

Banyak perusahaan di Indonesia masih mengandalkan pendekatan reaktif dalam menangani gangguan sistem, menyebabkan tim IT terjebak dalam penanganan insiden daripada fokus pada inovasi jangka panjang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 15.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mayoritas Perusahaan Indonesia Masih Tangani Gangguan IT Secara Reaktif
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah organisasi di Indonesia masih dominan menggunakan strategi responsif dalam menghadapi gangguan sistem teknologi informasi. Pendekatan ini berupa tindakan penyelesaian setelah insiden terjadi, bukan pencegahan sebelumnya. Menurut praktisi IT, hal ini menunjukkan kematangan operasional teknologi yang belum merata, sehingga tim IT kerap menghabiskan waktu untuk menangani kegagalan sistem daripada membangun solusi strategis.

Kondisi ini menciptakan siklus yang melelahkan, di mana tim teknis terus berada dalam posisi defensif. Akibatnya, peluang untuk mewujudkan rencana pengembangan infrastruktur, inovasi produk, atau ekspansi digital terhambat. Selain itu, masih banyak manajemen yang memandang IT sebagai bagian pendukung, bukan sebagai pilar utama pertumbuhan bisnis. Perubahan persepsi ini dinilai krusial agar investasi dalam sistem yang tangguh dan proaktif dapat diterima secara strategis.

Kompleksitas lingkungan IT menjadi salah satu penghambat utama transformasi ke model proaktif. Banyak perusahaan menggunakan berbagai platform dari vendor berbeda, masing-masing memiliki antarmuka dan laporan yang tidak terintegrasi. Hal ini memaksa tim IT harus melakukan analisis manual secara terpisah, yang tidak efisien dan rentan terhadap kesalahan. Proses ini justru memperpanjang waktu deteksi dan respon terhadap potensi kegagalan.

Pemahaman yang keliru tentang ketahanan sistem juga turut memperparah kondisi. Banyak organisasi menganggap bahwa keberadaan sistem backup sudah cukup untuk menjaga kelangsungan operasional. Padahal, proses pemulihan dari backup memerlukan waktu yang signifikan—mulai dari beberapa jam hingga beberapa minggu—yang dapat menyebabkan kerugian finansial dan merusak kepercayaan pelanggan.

Untuk menghindari risiko downtime yang berkepanjangan, diperlukan pendekatan yang lebih dini dan berbasis prediksi. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi pola anomali atau tanda-tanda kegagalan sebelum terjadi. Dengan begitu, tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal, mengurangi dampak negatif terhadap operasional, keuangan, dan kredibilitas bisnis. Solusi yang berkelanjutan harus dibangun dari fondasi mindset yang mengakui nilai strategis dari teknologi informasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya