Menghentikan Kebiasaan Scroll Berlebihan Secara Efektif
Studi menunjukkan doomscrolling memperparah stres dan gangguan tidur, namun ada langkah konkret untuk menguranginya secara berkelanjutan.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 16.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kebiasaan menelusuri berita dan konten negatif secara berkelanjutan melalui ponsel, yang dikenal sebagai doomscrolling, kini menjadi tantangan serius bagi kesehatan mental di era digital. Banyak orang secara otomatis mengakses gadget saat bangun tidur, terjebak dalam siklus membuka aplikasi satu per satu tanpa tujuan jelas. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan ringan, melainkan respons psikologis terhadap stres kronis yang tak kunjung mereda. Menurut pakar kesehatan dari Harvard Medical School, otak manusia dirancang untuk mengatasi stres dalam jangka pendek, tetapi dalam kondisi krisis berkepanjangan seperti saat ini, perilaku seperti doomscrolling muncul sebagai mekanisme pelarian.
Dampak dari kebiasaan ini sangat nyata, mulai dari penurunan konsentrasi, peningkatan kecemasan, hingga gangguan tidur, terutama jika dilakukan menjelang tidur. Selain itu, aktivitas tersebut mengganggu produktivitas, kualitas interaksi sosial, dan keseimbangan rutinitas harian. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan sadar dan terstruktur. Salah satu langkah awal adalah menetapkan batasan waktu penggunaan gadget. Dengan menempatkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau dan menggunakan alarm sebagai pengingat, seseorang dapat lebih mudah mengendalikan durasi penggunaan.
Penting juga untuk memperhatikan pola pikir saat mengambil ponsel. Sebelum membuka layar, bertanyalah pada diri sendiri apakah ada alasan yang jelas. Teknik ini, dikenal sebagai thought-stopping, membantu memutus kebiasaan otomatis. Selain itu, perlambat ritme scrolling dengan fokus pada konten yang dibaca, bukan sekadar melompat dari satu unggahan ke yang lain. Dengan menekan kecepatan, rentang perhatian bisa diperpanjang, sehingga mengurangi kecenderungan untuk terus mencari informasi negatif.
Pemantauan respons tubuh juga menjadi kunci. Perhatikan jika muncul ketegangan otot, detak jantung mempercepat, atau perasaan sedih yang tiba-tiba muncul saat membaca berita. Ini adalah tanda tubuh mengalami stres, dan saatnya berhenti. Alih-alih terus menggali konten, alihkan perhatian ke aktivitas nyata seperti berolahraga, bertemu teman, atau mengikuti kegiatan kreatif. Jeda digital jangka pendek juga efektif—memilih waktu tanpa gadget untuk menikmati aktivitas konvensional seperti membaca buku atau berkebun.
Jika upaya mandiri belum menunjukkan hasil, konsultasi dengan profesional merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. Terapis berbasis perilaku kognitif dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan merancang strategi khusus. Tujuan akhirnya bukan menolak teknologi, melainkan membangun kembali keseimbangan agar gadget menjadi alat bantu, bukan pengendali kehidupan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Lula Menang Pemilu Brasil, Cetak Sejarah Kedua Kali Dalam Sejarah
Luiz Inácio Lula da Silva terpilih kembali sebagai presiden Brasil dengan perolehan 51,79% suara, mencatatkan sejarah sebagai pemimpin pertama yang menang dalam pemilu putaran kedua setelah finis kedua di putaran pertama.
26 Oktober 2026

Pertama Kali iOS Berhasil Dioperasikan di Ponsel Android
Para pengembang independen berhasil menjalankan iOS 16 di perangkat Android, membuka jalan eksperimen teknis lintas ekosistem tanpa dukungan resmi dari Apple.
26 Oktober 2026

Pupuk Indonesia Perkuat Irigasi di 5 Wilayah, Dorong Ketahanan Pangan
Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation resmikan infrastruktur irigasi di lima daerah untuk tingkatkan akses air bagi petani lahan tadah hujan.
26 Oktober 2026

Indonesia Butuh Lebih Banyak Penulis Naskah Film Profesional
Ketua BPI ungkap industri film lokal kekurangan talenta, terutama penulis naskah, meski lulusan perfilman jumlahnya melimpah namun hanya sedikit yang masuk ke industri.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

BUMI Perkuat Posisi di Sektor Pertambangan Global
Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA

BI Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Volatilitas Pasar
Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA

InJourney Airports Turunkan Tarif Bandara 50% untuk Libur Akhir Tahun
Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA

Waspada Modus Penipuan BSU Incar Data Pribadi
Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA

Indonesia Alihkan Pasokan Gas ke Dalam Negeri
Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA

OJK Respons Usulan Rating Pasar Modal Mandiri
Senin, 26 Oktober 2026, 15.47 WITA

BEI Perluas Komite HSC Dorong Tata Kelola Lebih Baik
Senin, 26 Oktober 2026, 15.47 WITA

Ekspor Perdana Terasi Udang Rebon Asahan ke Thailand Sukses
Senin, 26 Oktober 2026, 15.47 WITA

