Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Muharram Jadi Awal Tahun Islam karena Musyawarah Sahabat

Penetapan Muharram sebagai bulan pertama kalender Hijriyah hasil kesepakatan para sahabat setelah musyawarah dengan mempertimbangkan peristiwa hijrah sebagai titik awal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 21.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Muharram Jadi Awal Tahun Islam karena Musyawarah Sahabat
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Penetapan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah bukanlah keputusan sepihak, melainkan hasil musyawarah para sahabat Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah. Pada masa awal Islam, masyarakat Arab belum menggunakan sistem penanggalan berbasis tahun, melainkan mengacu pada peristiwa penting seperti Tahun Gajah. Namun, dengan berkembangnya sistem pemerintahan dan administrasi, muncul kebutuhan akan penomoran tahun yang jelas.

Khalifah Umar bin Khattab RA menjadi tokoh kunci dalam proses ini. Ia menyadari bahwa tanpa penomoran tahun, dokumen resmi menjadi ambigu dan sulit dilacak. Permasalahan ini mendorongnya untuk mengundang para sahabat berdiskusi tentang peristiwa mana yang paling layak menjadi titik awal kalender baru. Dalam pertemuan tersebut, muncul berbagai usulan, termasuk tahun kelahiran Nabi, tahun diutusnya Nabi, hingga tahun wafatnya Rasulullah SAW.

Namun, kebanyakan sahabat menyepakati peristiwa hijrah sebagai acuan utama. Alasannya, hijrah merupakan transformasi besar dalam sejarah Islam: dari masa penganiayaan di Makkah menuju pembentukan komunitas berbasis iman dan keadilan di Madinah. Hijrah juga menjadi awal dari era baru dalam kehidupan umat Islam, sehingga layak menjadi fondasi penanggalan.

Dengan kesepakatan ini, Muharram—bulan pertama setelah hijrah, yang jatuh pada penghujung Zulhijah—dipilih sebagai bulan pertama kalender Hijriyah. Keputusan ini tidak hanya menetapkan awal tahun, tetapi juga menegaskan makna historis dan spiritual dari peristiwa hijrah sebagai fondasi kehidupan beragama yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya