Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pagar Sarang Lebah Jadi Strategi Alami Cegah Konflik Gajah-Manusia

TNWK terapkan pagar sarang lebah sebagai solusi berkelanjutan kurangi interaksi negatif gajah dengan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 11.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pagar Sarang Lebah Jadi Strategi Alami Cegah Konflik Gajah-Manusia
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah konservasi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kini menggandeng pendekatan alam untuk menekan konflik antara gajah Sumatera dan warga sekitar. Salah satu inovasi utamanya adalah pemasangan pagar sarang lebah di batas kawasan konservasi. Pendekatan ini dirancang berdasarkan respons alami gajah terhadap dengungan dan sengatan lebah, tanpa menimbulkan ancaman serius terhadap satwa.

Upaya ini dipimpin oleh Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK, yang menyatakan bahwa solusi berbasis ekosistem menjadi kunci mengatasi masalah yang telah berlangsung lebih dari empat dekade. Menurut perwakilan komite, langkah ini merupakan bagian dari strategi terpadu yang menggabungkan teknologi, konservasi komunitas, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.

Pagar sarang lebah tidak hanya berfungsi sebagai penghalang fisik, tetapi juga memanfaatkan insting alam gajah. Suara dengungan dan sensasi sengatan lebah cukup untuk membuat gajah menghindari area yang dipagari, sehingga mengurangi kemungkinan masuk ke lahan pertanian warga. Metode ini telah terbukti efektif di wilayah Afrika dan kini diadaptasi sesuai kondisi iklim dan ekosistem Indonesia.

Selain menjaga keseimbangan ekosistem, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pengembangan budi daya lebah madu lokal, khususnya jenis *Apis cerana*, diprioritaskan karena cocok dengan iklim tropis dan mampu beradaptasi di lingkungan perkebunan. Hasil dari kegiatan ini tidak hanya berupa madu, tetapi juga mendukung penyerbukan tanaman, yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian.

Dengan pendekatan ini, TNWK menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelestarian alam. Melalui kegiatan yang selaras dengan lingkungan, warga tidak hanya menjadi penjaga kawasan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi langsung. Dengan begitu, konflik antara manusia dan gajah dapat diminimalkan secara berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya