Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasar HP Asia Tenggara Rontok, Tertekan Kenaikan Harga Memori

Penurunan pengiriman smartphone di Asia Tenggara mencapai level terendah sejak 2014, didorong kenaikan harga memori dan pergeseran strategi harga vendor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Pasar HP Asia Tenggara Rontok, Tertekan Kenaikan Harga Memori📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar smartphone di Asia Tenggara mengalami penurunan tajam pada kuartal kedua 2026, dengan volume pengiriman mencapai 19,3 juta unit—angka terendah sejak tahun 2014. Riset Omdia menunjukkan penurunan year-on-year sebesar 23 persen, meski nilai pasar tetap stabil di angka US$6,6 miliar. Kenaikan harga rata-rata perangkat (AS) sebesar 31 persen, mencapai US$342, menjadi faktor utama di balik tren ini. Penyusutan pasar ini diproyeksikan akan melanjutkan tren negatif hingga mencapai penurunan 25 persen tahunan pada akhir 2026, dengan total pengiriman diperkirakan mencapai 75,3 juta unit.

Kenaikan harga memori yang signifikan pada paruh pertama 2026 menjadi pemicu utama, menekan margin produksi dan memaksa vendor menyesuaikan harga. Sebagian besar perangkat yang dikirimkan pada semester pertama mencerminkan biaya memori dari periode sebelumnya, sehingga margin saat ini belum sepenuhnya terdampak. Namun, seiring menipisnya stok dengan biaya rendah, dampak harga memori tinggi akan dirasakan secara penuh dalam beberapa bulan ke depan.

Pola permintaan mengalami pergeseran, dengan segmen harga US$100–199 menjadi penopang utama pasar, menyerap 39 persen dari total pengiriman—naik dari 32 persen pada periode sebelumnya. Banyak ponsel entry-level yang sebelumnya dijual di bawah US$100 kini dinaikkan harganya secara strategis. Meski demikian, penjualan di segmen harga lebih tinggi—US$100 ke atas—tetap menurun 2 persen, menunjukkan bahwa konsumen enggan beralih ke perangkat mahal.

Samsung berhasil meningkatkan pangsa pasar hingga 32 persen, didorong oleh penjualan di kisaran harga US$200–299. Sementara itu, Xiaomi mencatat kenaikan ASP sebesar 43,5 persen meski pengiriman turun 21 persen. Penurunan pengiriman di kelas US$100 ke bawah mencapai 69 persen, namun kenaikan 55 persen terjadi di kelas US$100–199. Transsion, yang mengelola merek Tecno, Infinix, dan Itel, juga mengalami penurunan 47 persen pada perangkat di bawah US$100, tetapi berhasil naik 12 persen di segmen US$100–199.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya