Pemerintah Perpanjang Status Darurat Papua Pegunungan Hingga 2026
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir 2026 untuk menangani dampak konflik sosial di Jayawijaya dan Lanny Jaya secara menyeluruh.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 07.33 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 22x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan secara resmi memperpanjang status tanggap darurat hingga 31 Desember 2026, berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/220/TAHUN 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons atas kompleksitas pascakonflik yang memerlukan penanganan jangka panjang, terutama terkait pemulihan infrastruktur, keamanan, dan kondisi sosial masyarakat di dua kabupaten terdampak.
Rapat tingkat menteri (RTM) yang digelar di Jakarta pada 9 September 2026, dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, membahas secara mendalam strategi percepatan pemulihan. Dalam rapat tersebut, disepakati sejumlah langkah koordinatif, termasuk pengelolaan data terpadu yang mencakup jumlah korban, pengungsi, tingkat kerusakan, serta kebutuhan prioritas. Tujuannya agar intervensi pemerintah bisa tepat sasaran dan terintegrasi antarinstansi.
Pemulihan diarahkan pada empat pilar utama: rehabilitasi dan rekonstruksi, pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan ekonomi dan sosial, serta rekonsiliasi antarkomunitas. Langkah ini diharapkan mencegah terulangnya konflik dan menjamin stabilitas jangka panjang. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan secara cepat dan tuntas, tanpa menunda kebutuhan masyarakat terdampak.
BNPB telah menyalurkan bantuan logistik sejak 6 Juni 2026, mencakup sembako, selimut, matras, tenda pengungsi, perahu, alat komunikasi, serta peralatan pemotong kayu. Bantuan ini diberikan secara langsung kepada Pemda Papua Pegunungan dan Pemkab Jayawijaya. Pemulihan hunian dilakukan melalui program Huntara, DTH, dan Huntap dengan nilai stimulan sebesar Rp70 juta untuk rumah rusak berat, Rp30 juta untuk rusak sedang, serta Rp15 juta untuk rusak ringan, sesuai aturan BNPB.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Lurah Diminta Jadi Penggerak Komunikasi Publik Berkualitas
Pelatihan humas bagi finalis Benyamin S Award 2026 tekankan pentingnya komunikasi efektif antara pemerintah kelurahan dan masyarakat.
26 Oktober 2026

700 Ribu Badan Usaha Diblokir Gara-Gara Tak Laporkan Pemilik Manfaat
Kementerian Hukum memblokir 700 ribu badan usaha yang belum melaporkan data pemilik manfaat, sebagai langkah mendukung transparansi dan keterbukaan data perusahaan.
26 Oktober 2026

Pemerintah Diminta Perluas Insentif Listrik untuk Truk dan Bus Komersial
Moeldoko menyerukan ekstensi insentif fiskal bagi truk dan bus listrik guna percepatan transisi energi dan pengurangan emisi karbon nasional.
26 Oktober 2026

Pentagon Rilis Dokumen Ketujuh soal Fenomena Udara Tak Dikenal
Pentagon AS mempublikasikan seri ketujuh dokumen terkait objek terbang tak dikenal, mencakup laporan lapangan, rekaman, dan catatan historis dari periode 1940-an hingga kini.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Suporter Muda Tewas Usai Menonton Laga di Pakansari
Senin, 26 Oktober 2026, 17.54 WITA

Penyelidikan Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald Dihentikan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Kompol Aditia Mulya Tutup Usia Setelah 7 Tahun Koma Akibat Pengeroyokan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Hakim Perintahkan Jaksa Lanjutkan Pembuktian Kasus Don Ritto dan Nurman
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Samsat Ciledug Blokir McLaren Usai Salah Tagih Pajak ke Mekanik
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

Susu dan Jerawat: Fakta Ilmiah di Balik Mitos Minum Susu
Senin, 26 Oktober 2026, 17.51 WITA

Pergeseran Pusat Ekonomi Batavia dari Kota Tua ke Pasar Baru
Senin, 26 Oktober 2026, 17.40 WITA

Honda Culture Indonesia Siap Meriahkan Puncak di GBK
Senin, 26 Oktober 2026, 17.39 WITA

