Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Rancang Mandatori Etanol Bertahap hingga E50

Pemerintah mempersiapkan penerapan mandatori etanol dalam BBM secara bertahap hingga mencapai E50, dengan fokus pada kesiapan industri dan pemanfaatan bahan baku lokal untuk kurangi ketergantungan impor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pemerintah Rancang Mandatori Etanol Bertahap hingga E50📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah tengah menyusun strategi penerapan campuran etanol dalam bahan bakar minyak secara bertahap, dengan target akhir mencapai komposisi E50. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kebijakan ini akan diterapkan dengan mempertimbangkan kapasitas produksi dalam negeri agar tidak justru menimbulkan ketergantungan impor etanol. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perkuat ketahanan energi nasional dalam tengah tekanan harga minyak global yang tinggi.

Kajian terhadap potensi wilayah penghasil bahan baku etanol tengah dilakukan, termasuk di Jawa, Sumatra, dan Papua. Komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung menjadi sasaran utama sebagai bahan baku. Penerapan mandatori ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru bagi petani, sekaligus mendorong pembentukan kawasan ekonomi baru di daerah yang memiliki potensi produksi tinggi.

Pemerintah telah mencatat bahwa konsumsi bahan bakar nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Untuk solar, pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) telah berhasil menghilangkan ketergantungan impor, dengan sekitar setengah dari konsumsi 39 juta kiloliter berasal dari biodiesel. Namun untuk bensin, produksi dalam negeri hanya sekitar 18–19 juta kiloliter dari total konsumsi 40 juta kiloliter, sehingga masih terjadi defisit yang harus diisi dari impor.

Etanol dianggap sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bensin impor. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal, pemerintah berharap bisa menciptakan rantai nilai baru yang menguntungkan petani dan industri dalam negeri. Bahlil menekankan bahwa keberhasilan penerapan E50 bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kapasitas produksi etanol domestik, bukan sekadar kebijakan tanpa dukungan ekonomi.

Pemerintah juga mempertimbangkan pengalaman negara lain seperti Brasil dan Amerika Serikat, yang telah sukses menerapkan campuran etanol tinggi dalam bahan bakar. Dalam kondisi harga minyak dunia yang tinggi, etanol menjadi alternatif energi yang lebih terjangkau. Dengan demikian, pengembangan etanol bukan hanya untuk keberlanjutan energi, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mampu menyerap hasil pertanian dan menopang pertumbuhan daerah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya