Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pendanaan LRT Perpanjangan Didukung Sinergi Investasi Nasional

Kolaborasi antara lembaga keuangan nasional dan pemerintah daerah diharapkan mempercepat perluasan jaringan LRT Jakarta tanpa membebani APBD.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 23.17 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
Pendanaan LRT Perpanjangan Didukung Sinergi Investasi Nasional📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini mempertimbangkan pendekatan baru dalam pendanaan perpanjangan jalur LRT, dengan melibatkan lembaga investasi nasional sebagai mitra strategis. Langkah ini dinilai sebagai respons atas keterbatasan ruang fiskal daerah yang terus menurun akibat beban pembangunan infrastruktur berbasis anggaran murni. Dengan keterlibatan lembaga seperti Danantara, pembiayaan proyek tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pinjaman daerah atau penerbitan obligasi.

Pakar transportasi Djoko Setijowarno menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar soal dana, melainkan transformasi dalam pola pengelolaan infrastruktur publik. Ia menekankan bahwa keberhasilan sistem transportasi masa depan tidak lagi ditentukan oleh jumlah armada, tetapi oleh kemampuan merancang skema pembiayaan yang berkelanjutan dan inklusif. Sinergi dengan lembaga investasi nasional dinilai menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan anggaran daerah tanpa mengorbankan kualitas layanan publik.

Perpanjangan rute LRT, termasuk koridor Manggarai-Dukuh Atas, Kelapa Gading-JIS, dan Velodrome-Stasiun Whoosh Halim, diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antar wilayah Jabodetabek. Integrasi dengan moda transportasi utama seperti Kereta Cepat Whoosh, Stasiun Integrasi Manggarai, dan kawasan JIS menjadi bagian penting dari visi mobilitas berkelanjutan. Dengan demikian, perpindahan antarmoda dapat berlangsung secara mulus, mengurangi kemacetan dan meningkatkan aksesibilitas bagi masyarakat.

Dengan pendekatan bisnis yang sehat, lembaga investasi juga turut mendorong optimalisasi kawasan sekitar stasiun melalui konsep Transit-Oriented Development (TOD). Pemanfaatan hak penamaan dan pendapatan non-tiket diharapkan mampu menciptakan pendanaan mandiri bagi operasional LRT, mengurangi ketergantungan pada subsidi. Pendekatan ini bukan hanya memperkuat keberlanjutan finansial, tetapi juga mendorong kemandirian sistem transportasi perkotaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya