Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penutupan Total Soetta Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Bandara Soekarno-Hatta ditutup total selama dua hari akibat abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, menjadi kejadian pertama dalam sejarah operasional selama 35 tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Penutupan Total Soetta Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada dini hari 6 September 2026, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami penutupan total menyusul penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan tersebut diambil setelah koordinasi intensif antara operator bandara, maskapai, dan otoritas penerbangan, menyusul peringatan awal yang disampaikan sejak sore hari sehari sebelumnya. Peristiwa ini menjadi yang pertama kali terjadi dalam 35 tahun operasional bandara, bahkan melebihi kondisi penutupan sebagian saat pandemi COVID-19.

Ketegangan mulai muncul pada 5 September, saat maskapai Pelita Air menjadi pihak pertama yang mengusulkan penutupan menyusul data pengamatan terhadap abu vulkanik yang mulai mendekati wilayah Jakarta. Direktur Utama Pelita Air, Faik Fahmi, tercatat menghubungi pihak pengelola bandara secara berulang dalam waktu singkat. Koordinasi pun dilanjutkan melalui WhatsApp dengan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa pada pukul 16.30 WIB, guna memastikan langkah antisipatif yang tepat.

Keputusan penutupan total akhirnya diambil oleh Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Soekarno-Hatta, Putu Eka Cahyadhi, berdasarkan dinamika koordinasi dan data risiko yang dianalisis secara komprehensif. Menurut Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi, penutupan total ini merupakan kejadian sejarah dalam pengelolaan bandara, karena sebelumnya hanya pernah terjadi penutupan sebagian saat perbaikan landasan pacu. Keputusan itu diambil sebagai langkah perlindungan terhadap keselamatan penerbangan dan penumpang.

Peringatan dari Pelita Air didukung oleh data satelit Himawari yang dipantau setiap tiga hingga enam jam, serta informasi dari BMKG dan Airnav. Eriza Muslim, Direktur Safety Pelita Air, mengungkapkan bahwa awak kabin sudah merasakan bau belerang di kokpit, menjadi indikasi langsung abu vulkanik masuk ke atmosfer penerbangan. Meski menimbulkan kerugian operasional dan gangguan jadwal, maskapai tetap menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Keputusan akhir tetap berada di tangan otoritas, meski rekomendasi dari maskapai menjadi dasar krusial.

Penutupan berlangsung selama dua hari, dari 6 hingga 8 September 2026, dan menjadi pembelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan penerbangan. Dalam forum yang sama, pihak terkait menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan kolaborasi cepat dalam menghadapi ancaman alam yang berdampak pada keselamatan penerbangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya