Penyemprotan Cairan ke Aktivis Diduga Oknum Berompi, Polda DIY Buka Pintu Klarifikasi
Satpol PP DIY akan lacak keberadaan pria berompi 'Jaga Warga' yang disebut menyemprot cairan merica ke aktivis mahasiswa, sementara Polda DIY mempertahankan klaim 'diduga' atas temuan botol oranye, meski aktivis menegaskan itu obat maag untuk penanganan gas air mata.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 17.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan sedang melakukan penelusuran terhadap pria yang mengenakan rompi bertuliskan 'Jaga Warga' dan terekam menyemprot cairan ke arah wajah Ketua Umum SEMA UGM, Mesa Syafitra, saat aksi demonstrasi di Simpang Empat Gramedia, Selasa (1/9). Kepala Satpol PP DIY, Bagas Senoadji, menegaskan bahwa meski Jaga Warga berstatus lembaga masyarakat yang dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur DIY, kewenangannya terbatas pada pengawasan lingkungan di tingkat kelurahan, bukan pengamanan aksi unjuk rasa.
Bagas menekankan bahwa pihaknya telah memberi arahan kepada seluruh anggota Jaga Warga untuk tidak ikut serta dalam pengamanan demonstrasi, melainkan fokus menjaga ketertiban di wilayah masing-masing. Ia menyatakan masih membuka kemungkinan bahwa pelaku penyemprotan merupakan oknum yang memakai rompi secara tidak sah. “Kami belum bisa memastikan apakah pelaku adalah anggota Jaga Warga resmi atau hanya memakai rompi secara simbolik. Jika terbukti, akan diberikan pembinaan,” ujarnya.
Mesa Syafitra, yang menjadi korban penyemprotan, mengunggah rekaman video durasi 21 detik yang menunjukkan dirinya disemprot dari arah depan oleh seseorang berompi Jaga Warga saat berjalan mundur untuk memastikan keselamatan rekan massa. Ia menegaskan bahwa saat itu, tim medis dari massa aksi justru membawa botol berisi cairan yang dikenal sebagai Mylanta—obat maag—untuk menetralkan dampak gas air mata. “Cairan tersebut bukan senjata, melainkan standar penanganan medis di lapangan untuk mengurangi iritasi akibat paparan kimia,” tegasnya.
Pernyataan Polda DIY yang menyebut temuan botol oranye berisi cairan merica dalam unggahan media sosial menimbulkan ketidakpuasan. Mesa menilai klaim tersebut menyesatkan, karena tidak membedakan antara obat maag dengan senjata kimia. “Menganggap obat maag sebagai senjata adalah bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan manusia, bahkan bisa menjadi upaya menjustifikasi tindakan represif,” tegasnya. Ia menuntut Polda DIY mencabut pernyataan tersebut dan meminta maaf secara terbuka untuk menjaga kredibilitas institusi penegak hukum.
Dalam klarifikasi, Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menjelaskan bahwa kata ‘diduga’ digunakan karena temuan botol tersebut belum sempat diamankan secara lengkap akibat kondisi lapangan yang dinamis. Ia menegaskan bahwa fokus utama adalah klinis, yaitu adanya tujuh personel yang mengalami iritasi dan sesak napas saat mengamankan aksi. “Kami menghargai masukan dari rekan mahasiswa dan terbuka terhadap klarifikasi,” kata Ihsan. Ia menyatakan seluruh korban, baik dari mahasiswa maupun petugas, telah diberi penanganan medis dan kini dalam kondisi pulih.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Periklindo Dorong Insentif Hybrid untuk Dukung Transisi Energi
Periklindo mendukung pemberian insentif nonfiskal bagi mobil hybrid sebagai bagian dari upaya percepatan transisi energi nasional dan pengurangan emisi.
26 Oktober 2026

Badai Musim Gugur Hantam Eropa, Listrik Padam dan Transportasi Terhenti
Badai Boelo dan Austen melanda Eropa utara dalam 24 jam, menyebabkan kematian, pemadaman listrik massal, dan gangguan transportasi di Inggris, Prancis, Jerman, serta wilayah Belanda dan Belgia.
26 Oktober 2026

Stok Beras Nasional Cukup hingga Juli-Agustus 2027
Pemerintah memastikan ketersediaan beras aman hingga 10 bulan ke depan, dengan total pasokan mencapai 25 juta ton tanpa impor selama dua tahun terakhir.
26 Oktober 2026

Protes Massal di Praha Tuntut Perlindungan Independensi Media
Ribuan warga turun ke jalan Praha menolak RUU perombakan pendanaan media publik yang dinilai mengancam kemerdekaan jurnalisme dan memperbesar pengaruh politik.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Suporter Muda Tewas Usai Menonton Laga di Pakansari
Senin, 26 Oktober 2026, 17.54 WITA

Penyelidikan Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald Dihentikan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Lurah Diminta Jadi Penggerak Komunikasi Publik Berkualitas
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Kompol Aditia Mulya Tutup Usia Setelah 7 Tahun Koma Akibat Pengeroyokan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Hakim Perintahkan Jaksa Lanjutkan Pembuktian Kasus Don Ritto dan Nurman
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Samsat Ciledug Blokir McLaren Usai Salah Tagih Pajak ke Mekanik
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

700 Ribu Badan Usaha Diblokir Gara-Gara Tak Laporkan Pemilik Manfaat
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

Susu dan Jerawat: Fakta Ilmiah di Balik Mitos Minum Susu
Senin, 26 Oktober 2026, 17.51 WITA

