Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perajin Tahu-Tempe Terpaksa Kecilkan Ukuran Akibat Tekanan Biaya

Lonjakan harga bahan baku dan logistik memaksa perajin tahu-tempe mengecilkan ukuran produk demi menjaga harga jual tetap stabil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Perajin Tahu-Tempe Terpaksa Kecilkan Ukuran Akibat Tekanan Biaya📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan berbagai komponen biaya produksi kini memaksa para perajin tahu dan tempe di seluruh Indonesia mengubah strategi penjualan dengan memperkecil ukuran produk. Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Kusnoto, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang dirasakan saat ini tak hanya berasal dari harga kedelai, tetapi juga melibatkan kenaikan harga plastik, minyak goreng, bahan bakar minyak, dan kurs dolar yang terus menguat.

Harga kedelai impor kini mencapai Rp12.000 per kilogram, naik signifikan dari Rp9.500 sebelumnya. Sementara itu, plastik kemasan melonjak dari Rp20.000–Rp25.000 per kg menjadi Rp35.000–Rp45.000, dan minyak goreng yang sebelumnya dihargai Rp14.000 per liter kini diperjualbelikan hingga Rp15.700. Tambah lagi dengan kenaikan ongkos logistik dan nilai tukar dolar yang mencapai Rp18.000 pada 2026, memperparah beban operasional.

Untuk tetap menarik konsumen, sejumlah perajin memilih menahan harga tempe 250 gram dan tahu 500 gram di level Rp5.000. Dengan produksi yang tetap, mereka memotong ukuran setiap batang tempe dari enam bagian menjadi tujuh bagian agar tetap menghasilkan pendapatan yang seimbang. Langkah ini dilakukan demi menghindari kehilangan pelanggan yang sensitif terhadap kenaikan harga.

Namun, di balik upaya ini, margin keuntungan perajin kini sangat tipis. Banyak produsen memilih menurunkan skala produksi, sementara beberapa bahkan terpaksa berhenti beroperasi karena tidak mampu menanggung beban biaya yang terus membengkak. Gakoptindo menyatakan bahwa program subsidi kedelai sebesar 250 ribu ton senilai Rp500 miliar belum secara langsung dirasakan oleh perajin, karena syarat penerapannya baru aktif jika harga kedelai mencapai Rp12.500–Rp13.000 per kg.

Kusnoto menegaskan bahwa meski produsen dengan modal kuat bisa bertahan hingga harga kedelai mencapai Rp15.000 per kg, banyak perajin kecil yang tidak mampu bertahan. Dengan kondisi ini, perlu kebijakan yang lebih responsif dan menyeluruh agar industri rumahan yang telah lama menjadi pilar konsumsi masyarakat tidak semakin tergerus oleh kenaikan biaya yang tak terkendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya