Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pertiwi Kembali ke Desa Setelah 20 Tahun, Hadapi Masa Lalu dan Penerimaan yang Tak Sempurna

Film "Empat Musim Pertiwi" tayang 8 Oktober 2026, menggambarkan perjalanan seorang perempuan yang kembali ke kampung halaman setelah dipenjara, menghadapi ingatan masa lalu dan upaya membangun hidup baru di tengah penolakan masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 21.17 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pertiwi Kembali ke Desa Setelah 20 Tahun, Hadapi Masa Lalu dan Penerimaan yang Tak Sempurna📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Putri Marino memerankan tokoh utama dalam film "Empat Musim Pertiwi", sebuah karya baru dari sutradara Kamila Andini yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Ia memerankan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke desa asalnya setelah dua dekade menjalani hukuman penjara. Kepulangannya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah tantangan emosional yang kompleks, karena ia harus menghadapi ingatan kolektif warga desa terhadap peristiwa masa lalu yang membawanya ke balik jeruji besi.

Di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya menerima kembalinya, Pertiwi menemukan ruang kecil untuk berharap melalui hubungan dengan sejumlah tokoh penting. Mak Ira, digambarkan oleh Christine Hakim, menjadi sosok yang menyediakan kehangatan dan pengertian. Bisma, diperankan Arya Saloka, serta Niken, yang dimainkan Hana Malasan, turut menjadi pelabuhan emosional baginya. Kehadiran mereka menandai awal dari proses penyembuhan yang perlahan terjadi, meski penuh tantangan.

Film ini tidak hanya mengeksplorasi trauma pribadi, tetapi juga menyoroti dinamika keluarga yang berubah seiring waktu, serta ketegangan antara individu dan komunitas. Pertiwi harus menatap kembali hubungan dengan ibunya, digambarkan oleh Hargo Sundari, dan menghadapi ingatan masa muda yang kembali menghantui, ditampilkan melalui peran Shofia Shireen sebagai Pertiwi remaja. Di sela-sela itu, tokoh-tokoh pendukung seperti Kuntet, Raras, dan Garong turut membentuk latar sosial yang kaya, menunjukkan kompleksitas kehidupan desa yang tak lepas dari sejarah dan norma.

Melalui perjalanan Pertiwi, film ini menyampaikan pesan tentang rekonsiliasi diri, keberanian menghadapi masa lalu, dan pencarian makna hidup setelah pengalaman yang menghancurkan. Dengan narasi yang intens dan karya visual yang halus, "Empat Musim Pertiwi" tidak hanya menjadi karya perfilman, tetapi juga refleksi mendalam tentang keadilan, pengampunan, dan kemungkinan untuk mulai kembali dari nol.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya