Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prasmanan MBG Tak Naikkan Anggaran, Siswa Bisa Tambahan dari Sisa Makanan

Sistem prasmanan dalam Makan Bergizi Gratis tetap menjaga anggaran tetap, sambil memberi kesempatan siswa mengambil tambahan dari makanan tersisa tanpa biaya tambahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 09.21 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 117x dibuka
Prasmanan MBG Tak Naikkan Anggaran, Siswa Bisa Tambahan dari Sisa Makanan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengubah alokasi anggaran. Setiap siswa tetap menerima porsi standar sesuai takaran gizi yang telah ditetapkan, termasuk komposisi protein dan nasi. Anggaran tetap dihitung berdasarkan jumlah peserta, dengan nilai per porsi sebesar Rp15 ribu, tanpa penyesuaian meskipun ada tambahan makanan yang diambil dari sisa penyajian.

Keunggulan utama sistem ini terletak pada fleksibilitas pengambilan makanan setelah seluruh siswa menerima porsi awal. Jika masih ada sisa makanan, siswa yang merasa belum kenyang diperbolehkan mengambil lebih banyak tanpa memengaruhi anggaran. Menurut Kepala BGN, rata-rata dalam simulasi kelas 30 siswa, terdapat sisa makanan yang bisa dimanfaatkan, sehingga tidak semua makanan habis persis sesuai jumlah.

Sistem prasmanan juga diharapkan menekan pemborosan makanan, karena siswa dapat menyesuaikan jumlah yang diambil setelah mendapatkan porsi dasar. Dari hasil observasi di beberapa lokasi, tingkat konsumsi makanan mencapai tingkat tinggi dan kebersihan penyajian terjaga dengan baik. Namun, BGN menekankan bahwa sistem ini tidak bisa diterapkan langsung di seluruh sekolah tanpa persiapan.

Kesiapan infrastruktur dapur, sumber daya manusia, serta komitmen sekolah dan orang tua menjadi syarat utama. Sekolah harus mendaftar, mengikuti pelatihan, dan divalidasi kesiapannya sebelum boleh menerapkan sistem ini. BGN menegaskan bahwa standar layanan tetap harus terjaga, meskipun mekanisme penyajian berbeda.

Uji coba sistem prasmanan saat ini dilakukan di berbagai wilayah seperti Jawa, Merauke, Aceh, dan Palembang untuk mengidentifikasi tantangan teknis, termasuk distribusi, tenaga pendukung, dan edukasi. Perluasan akan dilakukan secara bertahap setelah evaluasi selesai. Target akhir hingga akhir 2026 adalah menerapkan sistem ini di 1.000 hingga 5.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, dengan prioritas pada sekolah yang siap secara infrastruktur dan SDM.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya