Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Purbaya Akui Keterlambatan Pantau Likuiditas, Janji Perbaiki Sistem

Menteri Keuangan mengakui adanya keterlambatan dalam memantau likuiditas perbankan dan berkomitmen memperkuat alat ukur untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Purbaya Akui Keterlambatan Pantau Likuiditas, Janji Perbaiki Sistem📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui adanya kekeliruan dalam pemantauan kondisi likuiditas sistem perbankan selama masa kepemimpinannya. Ia menyebut bahwa upaya pengawasan yang selama ini dilakukan dinilai belum cukup akurat, terutama karena mengandalkan satu indikator utama, yaitu rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD), yang secara keliru dinilai mencerminkan stabilitas meski sebenarnya terjadi tekanan likuiditas.

Pernyataan ini disampaikan dalam kesempatan pelantikan Gubernur Bank Indonesia baru, Destry Damayanti, di Mahkamah Agung. Purbaya menegaskan bahwa kegagalan deteksi dini tersebut bukan hanya terjadi pada level teknis, tetapi juga menunjukkan kelemahan dalam sistem pengawasan kolektif di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia menyadari bahwa keterlambatan dalam mengenali sinyal krisis likuiditas telah membuat pemerintah kurang responsif terhadap pergerakan pasar.

Untuk memperbaiki hal tersebut, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan memperkuat dan memperluas alat analisis yang digunakan dalam pemantauan ekonomi. Ia menekankan pentingnya pengembangan instrumen baru yang lebih representatif terhadap kondisi nyata di lapangan, bukan hanya mengandalkan data formal yang bisa menyesatkan. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap gejolak likuiditas dapat terdeteksi lebih awal dan ditangani secara proaktif.

Dengan pergantian kepemimpinan di BI, Purbaya menyambut perubahan sebagai momentum untuk memperbaiki kerangka pengawasan sistem keuangan. Ia menegaskan bahwa kesalahan masa lalu tidak akan diulangi, dan pemerintah kini lebih siap menghadapi tantangan likuiditas yang bisa muncul dari berbagai sektor, termasuk perbankan, pasar modal, dan ekonomi digital.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya