Purbaya Akui Keterlambatan Pantau Likuiditas, Janji Perbaiki Sistem
Menteri Keuangan mengakui adanya keterlambatan dalam memantau likuiditas perbankan dan berkomitmen memperkuat alat ukur untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui adanya kekeliruan dalam pemantauan kondisi likuiditas sistem perbankan selama masa kepemimpinannya. Ia menyebut bahwa upaya pengawasan yang selama ini dilakukan dinilai belum cukup akurat, terutama karena mengandalkan satu indikator utama, yaitu rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD), yang secara keliru dinilai mencerminkan stabilitas meski sebenarnya terjadi tekanan likuiditas.
Pernyataan ini disampaikan dalam kesempatan pelantikan Gubernur Bank Indonesia baru, Destry Damayanti, di Mahkamah Agung. Purbaya menegaskan bahwa kegagalan deteksi dini tersebut bukan hanya terjadi pada level teknis, tetapi juga menunjukkan kelemahan dalam sistem pengawasan kolektif di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia menyadari bahwa keterlambatan dalam mengenali sinyal krisis likuiditas telah membuat pemerintah kurang responsif terhadap pergerakan pasar.
Untuk memperbaiki hal tersebut, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan memperkuat dan memperluas alat analisis yang digunakan dalam pemantauan ekonomi. Ia menekankan pentingnya pengembangan instrumen baru yang lebih representatif terhadap kondisi nyata di lapangan, bukan hanya mengandalkan data formal yang bisa menyesatkan. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap gejolak likuiditas dapat terdeteksi lebih awal dan ditangani secara proaktif.
Dengan pergantian kepemimpinan di BI, Purbaya menyambut perubahan sebagai momentum untuk memperbaiki kerangka pengawasan sistem keuangan. Ia menegaskan bahwa kesalahan masa lalu tidak akan diulangi, dan pemerintah kini lebih siap menghadapi tantangan likuiditas yang bisa muncul dari berbagai sektor, termasuk perbankan, pasar modal, dan ekonomi digital.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Asing Jual Bersih Rp664 Miliar, Tekanan Jatuhkan IHSG
Investor asing mencatat aksi jual bersih Rp664,34 miliar pada sesi I perdagangan, didorong pelemahan saham emiten tambang dan tekanan geopolitik global.
14 September 2026

Purbaya Dorong Optimalisasi Dana Daerah, Jangan Hanya Simpan di Bank
Menteri Keuangan meminta pemerintah daerah memaksimalkan penggunaan dana, bukan hanya menaruhnya di bank, demi pertumbuhan ekonomi yang lebih efektif.
14 September 2026

Menteri Keuangan Bantah Isu Pengalihan Payroll dari BPD ke Himbara
Menteri Keuangan menegaskan tidak ada kebijakan pengalihan penggajian ASN dari BPD ke Himbara, menanggapi teguran Mendagri akibat isu yang menyebar tanpa dasar.
14 September 2026

Penguatan Ekosistem Otomotif Indonesia di Tengah Tantangan Global
Forum diskusi bersama pelaku industri dan pemerintah membahas strategi memperkuat sektor otomotif nasional, khususnya kendaraan listrik dan ketahanan rantai pasok di tengah disrupsi global.
14 September 2026
Berita Lainnya

Hak Penumpang Saat Penerbangan Dibatalkan atau Terlambat
Senin, 14 September 2026, 15.46 WITA

BAIC Perluas Jaringan Dealer di Jakarta dan Wilayah Lain
Senin, 14 September 2026, 15.46 WITA

Sistem Ganjil-Genap BBM Subsidi Diberlakukan di Sulsel
Senin, 14 September 2026, 15.45 WITA

Penjualan Motor Nasional Turun Agustus, Industri Tetap Optimistis
Senin, 14 September 2026, 15.45 WITA

Motor dengan Tangki BBM Besar untuk Perjalanan Jauh
Senin, 14 September 2026, 15.45 WITA

Platform Digital yang Melanggar PP Tunas Siap Denda hingga Diblokir
Senin, 14 September 2026, 15.37 WITA

7.000 Kawasan Kumuh Masih Jadi Tantangan, AHY Soroti Penanganan Bertahap
Senin, 14 September 2026, 15.37 WITA

Cadangan Devisa RI Siap Tembus Rp147,5 Triliun
Senin, 14 September 2026, 15.36 WITA


