Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Purbaya Soroti Pertumbuhan Swasta di Era Jokowi

Menteri Keuangan menyoroti perlambatan pertumbuhan sektor swasta selama dekade terakhir, menilai kebijakan fiskal dan moneter kurang mendukung sektor non-pemerintah dibanding era sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 19.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Purbaya Soroti Pertumbuhan Swasta di Era Jokowi
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa sektor swasta di Indonesia mengalami stagnasi dalam sepuluh tahun terakhir, terutama selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ia menilai kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan tidak memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan sektor non-pemerintah, sehingga menghambat dinamika ekonomi yang seharusnya mendorong inovasi dan ekspansi bisnis. Pernyataan ini disampaikan dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, yang menyoroti perbedaan tren antar era kepemimpinan.

Ia membandingkan data pertumbuhan uang primer (M0) dan penyaluran kredit antara masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan era Jokowi. Menurutnya, pada masa SBY, pertumbuhan M0 rata-rata mencapai 18 persen per tahun, sementara kredit tumbuh sekitar 22 persen. Sebaliknya, selama era Jokowi, laju pertumbuhan M0 hanya sekitar 7 persen, dan penyaluran kredit berkisar antara 5 hingga 7 persen, menunjukkan perlambatan signifikan dalam aliran likuiditas ke sektor swasta.

Purbaya menekankan bahwa perbedaan ini didorong oleh pendekatan penggerak ekonomi yang berbeda antar periode. Era SBY cenderung ekspansif dengan penguatan sektor swasta, sementara era Jokowi lebih mengedepankan peran negara sebagai penggerak utama. Namun, ia menilai kini saatnya untuk mengintegrasikan kedua sektor tersebut secara seimbang agar ekonomi dapat tumbuh lebih berkelanjutan dan inklusif.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun 2027, Purbaya menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan Danantara. Ia menyatakan bahwa investasi pemerintah akan berperan sebagai katalisator, sedangkan sektor swasta harus menjadi motor utama pertumbuhan. Danantara, di sisi lain, diminta fokus pada investasi strategis, khususnya di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya