Purbaya Soroti Pertumbuhan Swasta di Era Jokowi
Menteri Keuangan menyoroti perlambatan pertumbuhan sektor swasta selama dekade terakhir, menilai kebijakan fiskal dan moneter kurang mendukung sektor non-pemerintah dibanding era sebelumnya.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 19.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa sektor swasta di Indonesia mengalami stagnasi dalam sepuluh tahun terakhir, terutama selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ia menilai kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan tidak memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan sektor non-pemerintah, sehingga menghambat dinamika ekonomi yang seharusnya mendorong inovasi dan ekspansi bisnis. Pernyataan ini disampaikan dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, yang menyoroti perbedaan tren antar era kepemimpinan.
Ia membandingkan data pertumbuhan uang primer (M0) dan penyaluran kredit antara masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan era Jokowi. Menurutnya, pada masa SBY, pertumbuhan M0 rata-rata mencapai 18 persen per tahun, sementara kredit tumbuh sekitar 22 persen. Sebaliknya, selama era Jokowi, laju pertumbuhan M0 hanya sekitar 7 persen, dan penyaluran kredit berkisar antara 5 hingga 7 persen, menunjukkan perlambatan signifikan dalam aliran likuiditas ke sektor swasta.
Purbaya menekankan bahwa perbedaan ini didorong oleh pendekatan penggerak ekonomi yang berbeda antar periode. Era SBY cenderung ekspansif dengan penguatan sektor swasta, sementara era Jokowi lebih mengedepankan peran negara sebagai penggerak utama. Namun, ia menilai kini saatnya untuk mengintegrasikan kedua sektor tersebut secara seimbang agar ekonomi dapat tumbuh lebih berkelanjutan dan inklusif.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun 2027, Purbaya menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan Danantara. Ia menyatakan bahwa investasi pemerintah akan berperan sebagai katalisator, sedangkan sektor swasta harus menjadi motor utama pertumbuhan. Danantara, di sisi lain, diminta fokus pada investasi strategis, khususnya di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Ekonomi, Pemerintah Diminta Segera Respons
Erupsi Anak Krakatau picu gangguan transportasi hingga 2.961 penerbangan dibatalkan, berdampak pada pariwisata, logistik, dan pendapatan masyarakat, perlu respons terkoordinasi dari pemerintah.
9 September 2026

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran solar B50, memicu minat belajar dari Jepang hingga negara Eropa terkait implementasi dan regulasinya.
9 September 2026

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Pemadaman listrik berkepanjangan selama 48 jam di Gambia memicu unjuk rasa besar-besaran di Banjul dan daerah lain, dengan massa menuntut presiden Adama Barrow mundur, sementara pihak berwenang mengaku penyebabnya adalah lonjakan beban dan gangguan teknis.
9 September 2026

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Ratusan warga eks bantaran rel Senen kini tinggal di hunian sementara yang disediakan pemerintah, menandai realisasi program relokasi dan penataan kawasan.
9 September 2026
Berita Lainnya

Anak Rentan Iritasi Paru Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.47 WITA

Wisata Bromo Tetap Beroperasi, Syuting Dibekukan Sementara
Rabu, 9 September 2026, 11.46 WITA

7 Langkah Alami Atasi Tenggorokan Gatal Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.46 WITA

7 Makanan Alami Bantu Atasi Lendir di Tenggorokan Akibat Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Penjualan Motor Agustus 2026 Turun Signifikan
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Penjualan Mobil Nasional Agustus 2026 Tumbuh, Toyota Puncaki Peringkat
Rabu, 9 September 2026, 11.44 WITA

Harga Apple Naik Akibat Kelangkaan Chip, Penjualan Tetap Stabil
Rabu, 9 September 2026, 11.37 WITA

Penjualan Mobil Capai Rekor Tertinggi, BYD Masuk Lima Besar
Rabu, 9 September 2026, 11.37 WITA


