Rohingya di Malaysia Terancam Dideportasi, Pendidikan dan Kehidupan Terus Terancam
Pengungsi Rohingya di Malaysia menghadapi penolakan meningkat, dengan sekolah komunitas diserbu dan keluarga diusir dari tempat tinggal, padahal mereka pernah diterima secara simpatik.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.55 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 14x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Komunitas Rohingya di Malaysia kini berada dalam tekanan ekstrem, seiring meningkatnya penolakan publik dan tindakan represif dari aparat keamanan terhadap mereka yang telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun tinggal di wilayah tersebut. Pendidikan bagi anak-anak Rohingya, yang sebelumnya menjadi satu-satunya jalan keluar dari keterasingan, kini semakin terancam. Sekolah informal yang didirikan oleh warga Rohingya sendiri, yang menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi anak-anak berusia 6 hingga 15 tahun, kini kerap menjadi sasaran operasi penertiban.
Pada bulan lalu, sebuah sekolah di wilayah utara Malaysia digerebek oleh delapan petugas polisi. Mereka memasuki area belajar, memotret siswa, dan memaksa sebagian anak untuk segera pulang. Kejadian tersebut memicu kepanikan di kalangan keluarga, yang kini takut membawa anak-anak mereka ke tempat belajar. Seorang guru yang mengelola sekolah itu, yang menggunakan nama samaran Irhan untuk melindungi identitas, mengungkapkan bahwa anak-anak hanya ingin belajar, namun kini mereka hidup dalam ketakutan setiap hari.
Di beberapa wilayah, termasuk di kawasan Selangor, sekolah komunitas sempat ditutup selama sebulan karena tekanan sosial dan ancaman. Setelah dibuka kembali, aturan baru diberlakukan: siswa dilarang mengenakan seragam, harus langsung pulang setelah pelajaran, dan dilarang berkumpul di sekitar lokasi. "Kami tidak ingin mencolok agar anak-anak tidak menjadi sasaran," ujar Farooq, salah satu guru Rohingya yang berjuang menyelamatkan akses pendidikan. Banyak sekolah lain juga terpaksa tutup akibat ketidakpastian dan ancaman kekerasan yang terus mengintai.
Beberapa keluarga bahkan diusir dari desa-desa yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun. Setelah dipaksa meninggalkan desa nelayan dekat Penang, sekitar 120 pengungsi Rohingya berlindung di depan kantor Badan Pengungsi PBB di Kuala Lumpur. Mereka kemudian ditahan sementara oleh otoritas setempat, dengan lebih dari separuhnya merupakan anak-anak. Kejadian ini memperkuat rasa ketakutan yang sudah lama menghantui komunitas Rohingya, yang dulu pernah merasa diterima oleh masyarakat Malaysia.
Saat ini, lebih dari 126.000 warga Rohingya diperkirakan tinggal di Malaysia, menjadikannya negara penampung pengungsi Rohingya terbesar kedua setelah Bangladesh. Namun, Malaysia tidak pernah mengakui status pencari suaka secara resmi, sehingga pengungsi tidak memiliki hak atas pendidikan, pekerjaan, atau tempat tinggal yang aman. Mereka berasal dari Myanmar, di mana mereka tidak diakui sebagai warga negara meskipun telah tinggal di wilayah Rakhine selama berabad-abad. Krisis kemanusiaan besar pada 2017, yang melibatkan pembantaian massal, pemerkosaan, dan pembakaran desa, memaksa lebih dari satu juta Rohingya melarikan diri—sebagian melalui perjalanan berbahaya melintasi Laut Andaman menggunakan kapal kecil yang tidak layak.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Festival Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Budaya di Melbourne
Festival Indonesia 2026 di Melbourne sukses menarik lebih dari 6.000 pengunjung dengan persembahan budaya, kuliner, dan UMKM dari berbagai daerah.
25 Oktober 2026

Ratusan Ribu Warga Israel Desak Pertanggungjawaban atas Kegagalan Keamanan
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menuntut penyelidikan independen atas kegagalan keamanan sebelum serangan 7 Oktober 2023, menjelang pemilu yang menentukan arah kebijakan militer dan politik negara.
25 Oktober 2026

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran dalam Waktu Dekat
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran, bahkan bisa terjadi besok, dengan tujuan mencegah pengembangan senjata nuklir secara permanen.
25 Oktober 2026

Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di Dandong
Pemimpin Korea Utara melakukan kunjungan singkat ke Dandong, China, menjelang peringatan 76 tahun kehadiran relawan Tiongkok dalam Perang Korea, dengan fokus pada simbolisme sejarah dan kebersamaan strategis.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

