Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rohingya di Malaysia Terancam Dideportasi, Pendidikan dan Kehidupan Terus Terancam

Pengungsi Rohingya di Malaysia menghadapi penolakan meningkat, dengan sekolah komunitas diserbu dan keluarga diusir dari tempat tinggal, padahal mereka pernah diterima secara simpatik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.55 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 14x dibuka
Rohingya di Malaysia Terancam Dideportasi, Pendidikan dan Kehidupan Terus Terancam📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Komunitas Rohingya di Malaysia kini berada dalam tekanan ekstrem, seiring meningkatnya penolakan publik dan tindakan represif dari aparat keamanan terhadap mereka yang telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun tinggal di wilayah tersebut. Pendidikan bagi anak-anak Rohingya, yang sebelumnya menjadi satu-satunya jalan keluar dari keterasingan, kini semakin terancam. Sekolah informal yang didirikan oleh warga Rohingya sendiri, yang menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi anak-anak berusia 6 hingga 15 tahun, kini kerap menjadi sasaran operasi penertiban.

Pada bulan lalu, sebuah sekolah di wilayah utara Malaysia digerebek oleh delapan petugas polisi. Mereka memasuki area belajar, memotret siswa, dan memaksa sebagian anak untuk segera pulang. Kejadian tersebut memicu kepanikan di kalangan keluarga, yang kini takut membawa anak-anak mereka ke tempat belajar. Seorang guru yang mengelola sekolah itu, yang menggunakan nama samaran Irhan untuk melindungi identitas, mengungkapkan bahwa anak-anak hanya ingin belajar, namun kini mereka hidup dalam ketakutan setiap hari.

Di beberapa wilayah, termasuk di kawasan Selangor, sekolah komunitas sempat ditutup selama sebulan karena tekanan sosial dan ancaman. Setelah dibuka kembali, aturan baru diberlakukan: siswa dilarang mengenakan seragam, harus langsung pulang setelah pelajaran, dan dilarang berkumpul di sekitar lokasi. "Kami tidak ingin mencolok agar anak-anak tidak menjadi sasaran," ujar Farooq, salah satu guru Rohingya yang berjuang menyelamatkan akses pendidikan. Banyak sekolah lain juga terpaksa tutup akibat ketidakpastian dan ancaman kekerasan yang terus mengintai.

Beberapa keluarga bahkan diusir dari desa-desa yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun. Setelah dipaksa meninggalkan desa nelayan dekat Penang, sekitar 120 pengungsi Rohingya berlindung di depan kantor Badan Pengungsi PBB di Kuala Lumpur. Mereka kemudian ditahan sementara oleh otoritas setempat, dengan lebih dari separuhnya merupakan anak-anak. Kejadian ini memperkuat rasa ketakutan yang sudah lama menghantui komunitas Rohingya, yang dulu pernah merasa diterima oleh masyarakat Malaysia.

Saat ini, lebih dari 126.000 warga Rohingya diperkirakan tinggal di Malaysia, menjadikannya negara penampung pengungsi Rohingya terbesar kedua setelah Bangladesh. Namun, Malaysia tidak pernah mengakui status pencari suaka secara resmi, sehingga pengungsi tidak memiliki hak atas pendidikan, pekerjaan, atau tempat tinggal yang aman. Mereka berasal dari Myanmar, di mana mereka tidak diakui sebagai warga negara meskipun telah tinggal di wilayah Rakhine selama berabad-abad. Krisis kemanusiaan besar pada 2017, yang melibatkan pembantaian massal, pemerkosaan, dan pembakaran desa, memaksa lebih dari satu juta Rohingya melarikan diri—sebagian melalui perjalanan berbahaya melintasi Laut Andaman menggunakan kapal kecil yang tidak layak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya