Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rumah Jenderal Nasution Jadi Museum Sejarah G30S

Sebuah rumah di Jakarta Pusat yang pernah menjadi saksi peristiwa G30S kini menjadi museum bersejarah untuk mengenang perjuangan Jenderal Besar A.H. Nasution dan korban tragedi 1965.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.18 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rumah Jenderal Nasution Jadi Museum Sejarah G30S📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Rumah bersejarah di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat, kini menjadi Museum Sasmitaloka yang mengabadikan jejak perjuangan Jenderal Besar A.H. Nasution. Bangunan tersebut menjadi lokasi kritis saat terjadi upaya penculikan pada dini hari 1 Oktober 1965, saat sekelompok pasukan bersenjata menyerbu rumahnya untuk menangkap sang jenderal. Peristiwa dramatis itu terjadi tepat pukul 04.00 WIB, saat keluarga Nasution sedang beristirahat.

Dalam keadaan terancam nyawa, Nasution berusaha melarikan diri dengan melompati pagar ke arah kompleks Kedutaan Besar Irak yang bersebelahan. Ia mengalami cedera pada kaki saat melarikan diri, tetapi berhasil selamat. Sementara itu, putri bungsu sang jenderal, Ade Irma Suryani, yang saat itu berusia lima tahun, menjadi korban tewas akibat tembakan langsung saat peristiwa terjadi. Ia sempat diberikan perawatan intensif namun tidak tertolong.

Ajudan Nasution, Lettu Czi Pierre A. Tendean, juga menjadi korban. Ia ditangkap setelah mengaku sebagai Nasution demi melindungi sang jenderal. Ia kemudian dibawa paksa dan gugur dalam peristiwa kelam yang mengguncang bangsa. Nasution sendiri tinggal di rumah tersebut sejak 1949 hingga wafat pada 6 September 2000, saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Pada 3 Desember 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan rumah ini sebagai museum sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.

Museum Sasmitaloka kini menyimpan sekitar 2.185 koleksi bersejarah, termasuk seragam dinas militer, mobil sedan Volvo, lukisan potret Ade Irma, serta diorama rekaan yang menggambarkan detik-detik penyerangan. Nama Sasmitaloka sendiri berasal dari kata yang berarti tempat mengenang peristiwa penting. Pengunjung dapat mengakses museum tanpa biaya, dengan jam operasional setiap Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 hingga 14.00 WIB, sedangkan Senin dan hari libur nasional tutup.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya