Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Dekati Rp18.000, Pemerintah Jaga Asumsi Ekspor dan Nilai Tukar

Rupiah melemah mendekati level Rp18.000 per dolar AS, namun pemerintah tetap pertahankan asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 dan genjot ekspor untuk perkuat devisa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Dekati Rp18.000, Pemerintah Jaga Asumsi Ekspor dan Nilai Tukar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada akhir pekan ini, menembus posisi Rp17.965 per dolar AS setelah bergerak melemah 0,53% pada perdagangan Senin (28/9/2026). Angka tersebut hanya berselisih 35 poin dari level psikologis Rp18.000, menunjukkan kenaikan tekanan terhadap mata uang domestik sejak awal perdagangan yang dimulai pada Rp17.920/US$. Penguatan dolar AS secara global dan pergerakan sentimen pasar keuangan internasional turut menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar secara intensif, namun tidak serta-merta mengubah asumsi dasar ekonomi yang telah ditetapkan. Ia menekankan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak merefleksikan kondisi fundamental perekonomian dalam negeri yang tetap terjaga. “Kita monitor dulu. Pemerintah akan menggenjot ekspor untuk meningkatkan penerimaan devisa,” ujar Airlangga dalam pernyataan di kompleks Istana Kepresidenan.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menegaskan tetap mempertahankan asumsi nilai tukar rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 pada level Rp17.500 per dolar AS. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap ketahanan ekonomi nasional meski menghadapi volatilitas pasar global. Airlangga menilai bahwa faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan sentimen pasar sering kali menimbulkan fluktuasi yang tidak selalu mencerminkan kinerja ekonomi domestik.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam respons kebijakan, mengingat dinamika pasar yang terus berubah. “Kita lihat saja. Selalu ada faktor di luar fundamental, termasuk sentimen pasar. Kita harus tetap bijak dan tidak gegabah,” tegasnya. Upaya ini dilakukan untuk mencegah reaksi berlebihan yang justru dapat mengganggu stabilitas ekonomi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya