Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.825 Hadapi Tekanan Global

Rupiah ditutup melemah 0,54% ke level Rp17.825 per dolar AS, dipengaruhi kenaikan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.34 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.825 Hadapi Tekanan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Senin (21/9/2026), menutup sesi di posisi Rp17.825 per dolar AS. Angka ini mencerminkan depresiasi sebesar 0,54% dibandingkan penutupan sebelumnya, setelah pada pembukaan pagi sempat melemah 0,28% di level Rp17.780. Pergerakan harian berlangsung dalam kisaran Rp17.740 hingga Rp17.840, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di tengah sentimen pasar global yang cenderung bearish terhadap rupiah.

Penguatan dolar AS secara global turut mendorong pelemahan rupiah, seiring indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,11% menjadi 100,334 pada pukul 15.00 WIB. Kenaikan tersebut terpicu oleh keputusan The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan dan menunjukkan kemungkinan kenaikan lebih lanjut pada pertemuan Oktober mendatang. Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan tersebut telah naik menjadi 55%, meningkat dari 42,5% pekan sebelumnya.

Ketegangan di Timur Tengah turut menjadi faktor pemicu sentimen pasar. Serangan oleh kelompok Houthi Yaman terhadap lokasi di Riyadh, Arab Saudi, memperburuk risiko geopolitik dan mendorong harga minyak dunia tetap berada di atas US$100 per barel. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi global serta memperberat prospek fiskal, baik di tingkat domestik maupun internasional.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari permintaan valas yang tinggi oleh importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik. Kombinasi dari faktor eksternal dan internal ini menambah beban terhadap nilai tukar mata uang Garuda. Untuk menahan gejolak, Bank Indonesia menegaskan kesiapan melakukan intervensi pasar valas melalui instrumen seperti Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga menjadi bagian dari strategi stabilisasi yang sedang dilakukan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya