Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.830, BI Sebut Tekanan dari Geopolitik dan Arus Modal

Rupiah terdepresiasi ke level Rp17.830 per dolar AS, didorong tekanan eksternal dari ketegangan Timur Tengah dan arus keluar modal, namun BI menegaskan langkah stabilisasi tetap berjalan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.34 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.830, BI Sebut Tekanan dari Geopolitik dan Arus Modal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatat pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (21/9/2026), menyentuh level Rp17.830 per dolar AS pada pukul 13.08 WIB, melemah 0,56% dibandingkan posisi sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian utama bagi Bank Indonesia yang langsung merespons dengan menjelaskan faktor-faktor dominan yang mendorong pergerakan kurs domestik. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari dinamika eksternal yang kian memburuk, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global menyebabkan harga minyak tetap berada di atas USD100 per barel, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Selain itu, permintaan valuta asing dari importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik turut memperparah tekanan kurs. Meski faktor utama berasal dari luar, BI menekankan bahwa dampaknya dapat merambat ke dalam negeri, termasuk risiko inflasi global dan tekanan terhadap kinerja fiskal negara.

Untuk menstabilkan pasar, BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental ekonomi. Langkah yang diambil mencakup pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan pendekatan pro-market, serta penguatan operasi moneter melalui transaksi underlying swap lindung nilai yang dilengkapi insentif. Intervensi juga dilakukan secara konsisten melalui NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi intensif dengan korporasi dan pelaku pasar keuangan terus diperkuat, termasuk upaya menarik arus masuk modal asing dengan memanfaatkan insentif yang telah diberikan. Selain itu, BI mendorong diversifikasi permintaan valuta asing melalui skema transaksi dalam mata uang lokal (Local Currency Transaction). Secara umum, pergerakan rupiah tetap selaras dengan tren regional, dengan penguatan kuartal ini sebesar 0,37%, sementara cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai USD146,5 miliar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya