Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.900/AS Dalam Perdagangan Hari Ini

Rupiah mengalami depresiasi 0,59% ke level Rp17.900 per dolar AS pada pagi hari, dipengaruhi penguatan greenback global dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.900/AS Dalam Perdagangan Hari Ini📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, menyentuh posisi Rp17.900 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB. Penurunan ini mencatat depresiasi sebesar 0,59% dibandingkan pembukaan pasar yang berada di level Rp17.835/AS$, menandai penurunan 65 poin dalam waktu singkat. Pergerakan ini menjadi perlawanan terhadap penguatan sebelumnya pada hari sebelumnya, saat rupiah sempat menguat 0,31% dan menutup di Rp17.795/AS$.

Kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia terus mendominasi pasar global, ditunjukkan oleh indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,04% menjadi 101,132 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan greenback dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar, yang menekan peluang penguatan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Dinamika ini diperkuat oleh pernyataan pejabat Federal Reserve yang menyatakan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut jika inflasi tetap tinggi.

Gubernur The Fed, Michael Barr, menegaskan bahwa bank sentral AS mungkin masih perlu menaikkan suku bunga untuk menekan tekanan inflasi. Data ekonomi AS juga memperkuat ekspektasi tersebut, terutama dari indeks PMI Komposit S&P Global yang naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan pesanan baru, namun juga mencerminkan kenaikan harga akibat permintaan yang kuat.

Penguatan dolar AS dalam dua bulan terakhir mencatat level tertinggi sejak Juli 2021, menunjukkan kembali dominasi aset dolar dalam lingkungan pasar yang mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut dalam waktu dekat, dengan rupiah tetap berada dalam tekanan akibat pergerakan pasar global dan kebijakan moneter AS yang cenderung hawkish.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya