Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.916 per Dolar AS di Akhir Sesi

Nilai tukar rupiah turun ke level Rp17.916 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (24/9), dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan indeks dolar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.14 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.916 per Dolar AS di Akhir Sesi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah berada di posisi Rp17.916 per dolar AS pada sore hari perdagangan Kamis, menunjukkan penurunan sebesar 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang cenderung memperkuat dolar AS, khususnya menyusul kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Tekanan terhadap rupiah juga didukung oleh sentimen pasar yang memperkirakan sikap hawkish dari pejabat Federal Reserve dalam waktu dekat.

Secara regional, pergerakan mata uang Asia beragam. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong mampu menguat tipis masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen, sementara yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, yen Jepang, dan won Korea Selatan mengalami depresiasi. Di sisi lain, sejumlah mata uang utama negara maju juga melemah terhadap dolar AS, termasuk euro Eropa, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss, yang masing-masing turun antara 0,02 hingga 0,30 persen.

Analis pasar keuangan dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menekankan bahwa tekanan terhadap rupiah hari ini tidak lepas dari kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang menarik aliran modal ke aset berdenominasi dolar. Selain itu, indeks dolar AS yang menguat dan kenaikan harga minyak global turut memperkuat dolar dan menekan nilai tukar mata uang berkembang. “Pelemahan tajam rupiah ke Rp17.916 per dolar dipicu oleh kombinasi faktor tersebut, ditambah antisipasi pernyataan hawkish dari pejabat Fed yang akan disampaikan hari ini,” jelasnya.

Dengan kondisi ini, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap rentan terhadap fluktuasi global, terutama jika kebijakan moneter AS terus menunjukkan sinyal ketat. Pergerakan nilai tukar hari ini menjadi indikator bahwa pasar masih sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter global dan gejolak komoditas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya