Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.940 per Dolar AS di Akhir Oktober

Rupiah berakhir melemah 0,39% ke level Rp17.940/US$ pada perdagangan pertama Oktober, dipengaruhi penguatan dolar global dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.940 per Dolar AS di Akhir Oktober📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada perdagangan pertama bulan Oktober 2026, rupiah mengalami penurunan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat, menutup sesi di posisi Rp17.940 per dolar. Penurunan ini menjadi pemantik kembali setelah sehari sebelumnya menguat 0,50% ke level Rp17.870. Pergerakan mata uang nasional mencatat penurunan 70 poin dari penutupan sebelumnya, menunjukkan tekanan jual yang kembali muncul di pasar valuta asing.

Penguatan dolar AS terjadi secara global, didukung oleh indeks dolar (DXY) yang naik 0,23% menjadi 101,678 pada pukul 15.00 WIB. Peningkatan nilai DXY mengindikasikan permintaan tinggi terhadap aset berdenominasi dolar, terutama dalam kondisi pasar yang mengkhawatirkan terhadap inflasi global. Dolar AS bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir, didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mencapai 5,33%, menjadi yang tertinggi sejak 2002. Kenaikan ini tercermin dari penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada pasar obligasi global, yang dipengaruhi oleh kondisi fiskal yang memburuk di sejumlah negara, tingginya penerbitan surat berharga, serta kekhawatiran atas inflasi yang masih mengancam stabilitas ekonomi.

Di dalam negeri, data inflasi September 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat. Inflasi bulanan mencapai 0,30%, naik dari 0,21% pada Agustus, sementara inflasi tahunan mencapai 3,28%, meningkat dari 3,19% pada bulan sebelumnya. Namun, inflasi inti justru melambat menjadi 2,84% dari 2,92% sebelumnya. Secara kumulatif, inflasi Januari-September 2026 berada pada 2,17%, tetap dalam target Bank Indonesia di rentang 1,5%-3,5%.

Meskipun inflasi domestik masih terkendali, tekanan dari penguatan dolar global dan kenaikan imbal hasil obligasi AS tetap dominan. Kondisi ini mengurangi daya tahan rupiah terhadap gejolak pasar global, meski data ekonomi dalam negeri menunjukkan stabilitas relatif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya