Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Keruntuhan Kerajaan Bisnis Salim dalam Hitungan Hari

Kejayaan Sudono Salim sebagai konglomerat berakhir dalam waktu singkat akibat krisis 1998 yang dipicu oleh kerusuhan rasial dan jatuhnya Soeharto.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 09.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Keruntuhan Kerajaan Bisnis Salim dalam Hitungan Hari📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada awal Mei 1998, kerajaan bisnis yang dibangun selama tiga dekade oleh Sudono Salim—dikenal juga sebagai Liem Sioe Liong—dilanda kehancuran massal. Dukungan politik dari Presiden Soeharto selama puluhan tahun, yang memungkinkan bisnisnya tumbuh subur di sektor perbankan, konstruksi, dan makanan, berubah menjadi beban saat kekuasaan Soeharto runtuh. Ketika gelombang protes meluas menjadi kerusuhan, Salim, sebagai tokoh yang dekat dengan rezim, menjadi sasaran amukan massa yang marah atas krisis ekonomi dan ketimpangan sosial.

Rumah mewah Salim di kawasan Roxy menjadi salah satu target utama penjarahan dan pembakaran. Pada 14 Mei, sekelompok massa mengancam masuk ke dalam rumah dengan jerigen bahan bakar dan alat perusak. Anthony Salim, putra bungsu yang sedang bertugas di Wisma Indocement, memilih tidak melawan. Ia memerintahkan satpam untuk membiarkan massa masuk demi menghindari kekerasan lebih besar. Dalam hitungan menit, seluruh isi rumah, termasuk mobil, furnitur, dan lukisan, dibakar habis. Foto Salim yang dipajang di jalan pun dilempari batu dan dibakar oleh massa.

Kerusuhan tidak hanya menyerang rumah pribadi, tetapi juga aset bisnis utama keluarga. Bank Central Asia (BCA), yang menjadi tulang punggung kerajaan keuangan Salim, mengalami kerusakan parah. Dari 122 cabang, 17 di antaranya terbakar habis, 26 dirusak dan dijarah, sementara 75 lainnya mengalami kerusakan ringan. Lebih dari 150 ATM dirusak, menimbulkan kerugian mencapai Rp 3 miliar. Pabrik Indofood di Solo juga dibakar dan dijarah, menimbulkan kerugian hingga Rp 42 miliar, sementara pusat distribusi di Tangerang hancur.

Pada 21 Mei 1998, hanya sehari setelah Soeharto mengundurkan diri, pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) mengambil alih BCA dan menetapkannya sebagai Bank Taken Over (BTO). Pengambilalihan ini menandai akhir keberadaan keluarga Salim dalam kepemilikan perbankan nasional. Dengan kehilangan BCA, kerajaan bisnis Salim secara struktural runtuh, meskipun Indofood tetap menjadi satu-satunya aset yang bertahan.

Meski begitu, keluarga Salim mampu bangkit dari kehancuran. Dalam rentang waktu 25 tahun, bisnis yang dikelola oleh generasi penerus berhasil membangun kembali kekuatan, kini meliputi sektor makanan, konstruksi, dan migas. Meskipun tidak lagi memegang BCA, kiprah mereka di dunia usaha tetap menjadi contoh bagaimana kejatuhan sistem dapat diatasi melalui adaptasi dan ketahanan bisnis jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya