Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melonjak di Awal Pekan, Dolar AS Melemah ke Rp17.610

Rupiah menguat tajam ke level Rp17.610 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat, didorong pelemahan greenback global dan ekspektasi suku bunga The Fed yang menurun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 10.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melonjak di Awal Pekan, Dolar AS Melemah ke Rp17.610
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Mata uang nasional mengawali perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan signifikan, menyentuh posisi Rp17.610 per dolar AS pada pagi hari. Kenaikan sebesar 0,23% ini melanjutkan momentum positif dari penutupan perdagangan sebelumnya, ketika rupiah menutup di level Rp17.655, menjadi yang terkuat sejak akhir Mei 2026. Pergerakan ini mencerminkan kembali kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika global yang menguntungkan.

Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY), yang pada pukul 09.00 WIB tercatat turun tipis 0,07% ke posisi 98,981. Penurunan tersebut merupakan kelanjutan dari penurunan tajam 0,69% pada penutupan perdagangan Kamis, yang disebabkan oleh kenaikan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS. Yen melonjak lebih dari 2% ke level 155,47 yen per dolar, mendekati posisi terkuat sejak awal Mei, berkat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

Ekspektasi tersebut diperkuat oleh pernyataan anggota dewan BOJ, Hajime Takata, yang menekankan perlunya penyesuaian suku bunga lebih cepat untuk menangani inflasi. Pergerakan yen yang kuat turut menekan DXY karena mata uang Jepang menjadi salah satu komponen utama dalam indeks tersebut. Di sisi lain, pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang membuka kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini juga berkontribusi terhadap penurunan daya tarik dolar.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 48%, dari sebelumnya 59%, setelah Waller menyampaikan bahwa keputusan akan bergantung pada data inflasi mendatang. Penurunan ekspektasi tersebut membuat aset berdenominasi dolar kurang menarik, sehingga mendorong aliran modal ke mata uang negara berkembang seperti rupiah. Namun, arah pergerakan dolar selanjutnya masih menunggu rilis laporan tenaga kerja AS yang dijadwalkan pada hari yang sama.

Ekonom memperkirakan data lapangan kerja AS akan menunjukkan penambahan 56.000 pekerja baru pada Agustus, menyusul kehilangan 23.000 pekerjaan di bulan sebelumnya. Jika data tersebut lebih lemah dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga akan semakin menurun, menekan dolar dan membuka ruang lebih luas bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, data yang kuat dapat memicu kembali ekspektasi pengetatan moneter, yang berpotensi membatasi penguatan rupiah dalam waktu dekat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya