Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat Pagi Ini, Dolar AS Melemah ke Rp17.705

Rupiah menguat 0,25% ke level Rp17.705 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, didorong koreksi indeks dolar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 10.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Menguat Pagi Ini, Dolar AS Melemah ke Rp17.705
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada awal perdagangan Kamis (3/9/2026), mencatat appreciasi sebesar 0,25% terhadap dolar Amerika Serikat. Posisi tukar mata uang Garuda dibuka di angka Rp17.705 per US$, menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang terdepresiasi 0,31% ke level Rp17.765. Penguatan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB, yang turun 0,08% ke posisi 99,502.

Pergerakan dolar global dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Eskalasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Dalam kondisi tersebut, dolar AS dianggap sebagai aset aman, tetapi kenaikan harga energi juga membawa ketidakpastian terhadap prospek ekonomi jangka panjang.

Di tengah itu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) terus meningkat, dengan probabilitas pencapaian kenaikan pada September mencapai 68% berdasarkan data CME FedWatch. Peningkatan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga 4,8182% — level tertinggi sejak November 2023 — menambah daya tarik instrumen keuangan AS bagi investor global. Namun, tekanan dari utang yang membengkak dan inflasi yang tetap tinggi mulai memunculkan keraguan terhadap daya tarik aset dolar dalam jangka menengah.

Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa perekonomian global saat ini berada dalam fase higher for longer, di mana suku bunga, inflasi, dan imbal hasil obligasi di negara maju diperkirakan tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Ia menekankan bahwa faktor-faktor global ini akan menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan kebijakan moneter domestik, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan sistem keuangan.

Kondisi ketidakpastian global yang tinggi menegaskan pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi. BI, menurut Destry, akan terus mengantisipasi pergerakan global, termasuk perubahan suku bunga dan yield obligasi internasional, untuk memastikan kebijakan dalam negeri tetap responsif dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya