Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Terancam Melemah Hingga Rp22.000 Jika Arus Modal Asing Keluar US$25 Miliar

Pelemahan rupiah hingga level Rp22.000 per dolar AS diprediksi terjadi jika arus keluar modal asing mencapai US$25 miliar akibat konsultasi MSCI terkait penurunan status pasar Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 18x dibuka
Rupiah Terancam Melemah Hingga Rp22.000 Jika Arus Modal Asing Keluar US$25 Miliar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Keprihatinan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah kembali muncul menyusul konsultasi publik yang dibuka oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Menurut pakar ekonomi politik, ancaman pelemahan rupiah makin nyata, terutama jika investor asing mempercepat aksi jual saham dan menarik dana dari instrumen keuangan lainnya. Dalam kondisi seperti ini, nilai tukar bisa terus menurun hingga mencapai Rp18.100–Rp18.200 per dolar AS dalam waktu dekat.

Meski pada Selasa (20/10/2026) rupiah sempat menguat ke level Rp17.980, tren ini tidak menutup kemungkinan terjadinya gejolak besar. Proyeksi dari UBS memperkirakan arus keluar modal dari pasar saham Indonesia bisa mencapai US$19 miliar, setara dengan 13% dari kepemilikan asing di pasar lokal. Data menunjukkan bahwa sejak awal 2026 hingga pertengahan Oktober, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih senilai US$6 miliar, sebelum konsultasi MSCI dimulai. Periode konsultasi yang berlangsung hingga 30 April 2027 diperkirakan akan memicu ketidakpastian pasar yang berkepanjangan.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pasar saham. Pakar tersebut menekankan risiko merambat ke pasar obligasi pemerintah dan instrumen Bank Indonesia, karena investor asing juga memiliki eksposur signifikan di dua segmen tersebut. Dengan utang luar negeri Indonesia yang mencapai US$459,3 miliar pada Agustus 2026—setara 3,13 kali cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar—tekanan eksternal semakin besar. Jika terjadi penjualan bersamaan di saham dan surat utang, cadangan devisa bisa terkuras cepat, bahkan memicu intervensi bank sentral yang berisiko menipiskan cadangan.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam periode krisis seperti September 2014 hingga September 2015, cadangan devisa turun US$9,4 miliar dan rupiah melemah 20,2%. Sementara pada krisis pandemi 2020, cadangan devisa turun US$10,7 miliar dalam sebulan dengan depresiasi rupiah mencapai 21,2%. Dengan kondisi eksternal yang tidak menentu, ancaman arus keluar modal bisa mencapai US$20–25 miliar, yang berpotensi membuat rupiah tembus ke level Rp20.000 hingga Rp22.000 per dolar AS.

Selain tekanan pasar modal, defisit transaksi berjalan (CAD) yang mencapai 3,3% dari PDB pada kuartal II-2026 juga menjadi faktor penguat risiko. Kombinasi penjualan saham besar-besaran, peningkatan kebutuhan pembiayaan luar negeri, serta beban utang yang tinggi berpotensi memperparah tekanan terhadap nilai tukar. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, diperlukan langkah tegas dari OJK dan BEI, termasuk memperkuat tata kelola pasar modal, meningkatkan transparansi kepemilikan saham, serta menindak tegas praktik manipulasi perdagangan saham sebagai tindak pidana.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya