Rupiah Terkuras Tekanan Global, Bukan Kekuatan Dalam Negeri
Pelemahan rupiah disebabkan tekanan eksternal seperti capital flight dan ketegangan geopolitik, bukan kondisi domestik yang memburuk.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 23.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah berasal dari faktor luar negeri, bukan dari kelemahan ekonomi dalam negeri. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih mencatatkan angka positif sebesar 5,29%, menunjukkan daya tahan ekonomi yang cukup kuat meskipun menghadapi tantangan global. Inflasi, meski sempat mengalami kenaikan akibat fluktuasi harga pangan, tetap berada dalam batas kendali dan tidak menunjukkan gejala melambung.
Kondisi global menjadi pendorong utama pelemahan rupiah, terutama melalui arus keluar modal asing yang kembali ke negara asalnya. Fenomena capital flight ini terjadi karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Akibatnya, terjadi outflow besar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, yang memperkuat tekanan terhadap rupiah.
Dampak dari arus modal keluar ini juga terasa pada instrumen keuangan negara, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Republik Indonesia (SRBI), yang mengalami penjualan besar-besaran oleh investor asing. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi pada kurs, tetapi juga pada stabilitas pasar keuangan domestik.
Faktor tambahan yang memperparah pelemahan rupiah meliputi kekhawatiran terhadap inflasi global, risiko fiskal, serta kenaikan harga minyak mentah yang menyentuh level di atas US$108 per barel akibat belum tercapainya kesepakatan terkait akses Selat Hormuz. Di sisi lain, permintaan valuta asing dari para importir menjelang akhir kuartal III-2026 juga turut berkontribusi. Namun, pelemahan rupiah tetap terkendali, dengan pergerakan qtd hanya sebesar 0,67%, sejalan dengan tren mata uang kawasan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Sidang Pemakzulan Wapres Filipina Fokus pada Ketidaksesuaian Pendapatan dan Kekayaan
Sidang pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte kembali berlanjut dengan pemeriksaan dokumen pajak yang menyoroti selisih antara pendapatan dan kekayaan yang dilaporkan.
9 Oktober 2026

BI Tahan Suku Bunga, Dorong Masuknya Modal Asing
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan meski The Fed naikkan suku bunga, dan berhasil menarik aliran modal asing sebesar US$8 miliar melalui insentif biaya hedging dan kebijakan likuiditas makroprudensial.
9 Oktober 2026

HSBC Dorong Transaksi Ritel Jelang Pelepasan Bisnis
HSBC Indonesia gelar travel fair 2026 dengan target pertumbuhan transaksi 44% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, sebelum serah terima bisnis ritel ke OCBC NISP.
9 Oktober 2026

Saham TRIN Anjlok Setelah Komisaris Utama Mundur
Saham TRIN turun 6,72% menyusul pengunduran diri Komisaris Utama Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, yang telah diterima perusahaan pada 7 Oktober 2026.
9 Oktober 2026
Berita Lainnya

Meikarta Jadi Pilot Project Hunian Ramah Lingkungan Berbasis Energi Bersih
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Antrean Mobil Listrik di SPKLU Picu Kebutuhan Infrastruktur
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Koordinasi Lintas Kementerian Dorong Ekosistem Mobil Listrik Nasional
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Prabowo Tinjau Progres 100 Kampung Nelayan di Hambalang
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

20.000 Aparat Siaga Hadapi Unjuk Rasa Besar di New Delhi
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Kerusuhan di Afrika Selatan Dorong Pengungsian Massal
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

BRI Perluas Portofolio Investasi dengan Tiga Reksa Dana Baru
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

Shubhasish Chattoraj Hentikan Jabatan Wakil Presiden Komisaris BMHS
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

