Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Santri Jombang Jadikan Sampah Bahan Baku Produktif

Menteri Koordinator Pangan mendorong peniruan model pengelolaan sampah berkelanjutan di pesantren yang berhasil mengubah limbah menjadi energi dan produk bernilai ekonomi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 22.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Santri Jombang Jadikan Sampah Bahan Baku Produktif
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai praktik pengelolaan sampah di SMK Kreatif Chasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai model yang layak ditiru di berbagai daerah. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak dini melalui pendekatan nyata, bukan sekadar pemahaman teoretis. Dalam kunjungannya, ia menyaksikan langsung bagaimana para santri mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi seperti paving block dan biogas.

Proses pengolahan tersebut tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga menciptakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Zulhas mengapresiasi keterlibatan aktif santri dalam setiap tahapan, mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasil akhir. Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah yang efektif harus menyertakan literasi dan keterampilan praktis, terutama dalam konteks pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.

Salah satu santri, Andika M Nuur, menjelaskan bahwa sistem yang diterapkan telah mencapai prinsip zero waste, di mana hampir seluruh sampah yang masuk dikelola secara maksimal tanpa menyisakan residu. Ia menegaskan bahwa semua limbah organik dan anorganik diolah menjadi bahan baku produktif, baik untuk infrastruktur maupun energi. Keterampilan ini, menurutnya, diajarkan secara intensif sejak masa pembinaan di pesantren.

Zulhas menyoroti pentingnya pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) sebagai bagian dari strategi nasional mengatasi permasalahan limbah. Ia menilai bahwa pendekatan seperti yang dilakukan pesantren ini bisa menjadi acuan bagi sekolah dan lembaga pendidikan lain dalam membangun budaya berkelanjutan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku perubahan lingkungan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya