Saudi Kerahkan 100 Jet Tempur dalam Serangan Udara ke Houthi
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengerahkan 100 jet tempur dalam serangan fajar terhadap kelompok Houthi di Yaman, sebagai respons atas kampanye militer pemerintah Yaman yang diakui internasional.
Redaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi mengonfirmasi pelibatan 100 unit pesawat tempur dalam operasi udara pagi hari, menyusul eskalasi konflik di wilayah Yaman. Serangan ini dilakukan sebagai bagian dari dukungan strategis terhadap pasukan keamanan Yaman yang sedang melancarkan kampanye pembersihan wilayah dari kekuasaan kelompok Houthi. Operasi tersebut diberi nama “Fajar Yaman” oleh pihak koalisi, menandai upaya terkoordinasi untuk memperkuat posisi militer di darat.
Serangan udara terjadi pada Senin, 5 Oktober 2026, tepat saat fajar, dengan fokus pada basis dan infrastruktur militer Houthi di kawasan kritis sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyatakan bahwa dukungan udara dilakukan secara kontinu untuk melindungi pasukan darat Yaman yang sedang melakukan penyerangan terhadap posisi musuh. Penempatan jet tempur dalam jumlah besar menunjukkan intensifikasi strategi militer dalam upaya menstabilkan wilayah yang menjadi poros jalur pelayaran global.
Sebelumnya, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah mengumumkan kampanye militer baru untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Kelompok yang didukung Iran telah memperluas kendali mereka atas jalur pelayaran utama, termasuk sebagian besar garis pantai Laut Merah, yang berdampak langsung pada keamanan maritim internasional. Pada bulan September, Houthi melakukan serangan cepat yang menyebabkan ratusan korban tewas dan memaksa lebih dari 145.000 warga mengungsi, menurut laporan PBB.
Konflik di Yaman tetap menjadi krisis kemanusiaan terparah di dunia, dengan dampak yang berkepanjangan sejak pecahnya perang saudara pada 2014. Negara ini tergolong salah satu yang paling miskin secara ekonomi, dengan infrastruktur dasar hampir runtuh dan akses terhadap bantuan kemanusiaan terus terhambat. Upaya militer terkini diharapkan dapat mempercepat proses rekonsiliasi politik dan membuka jalan bagi penyelesaian damai yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Podcast Indonesia Melesat Lewat Konten Lokal dan Format Video
Podcast di Indonesia kini menjadi medium utama bagi beragam narasi, didukung transformasi digital dan popularitas konten video yang meningkat tajam.
5 Oktober 2026

Earphone Saat Petir: Bahaya Nyata atau Mitos?
Penggunaan earphone saat petir tidak meningkatkan risiko tersambar, tetapi koneksi ke sumber listrik dan lokasi menjadi faktor penentu keselamatan.
5 Oktober 2026

5 Data Pribadi yang Harus Dijaga Ketat di Media Sosial
Sebanyak 61,3 persen pengguna media sosial di Indonesia membagikan nomor ponsel, meningkatkan risiko penyalahgunaan data pribadi.
5 Oktober 2026

Petir Picu Padam Listrik, Ini Mekanisme Perlindungannya
Sambaran petir menyebabkan listrik padam karena sistem proteksi otomatis memutus aliran untuk mencegah kerusakan lebih luas.
5 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pencegahan PMI Non-Prosedural Capai 6.555 Orang dalam Dua Tahun
Senin, 5 Oktober 2026, 23.24 WITA

KPK Periksa Kakak Ridwan Kamil Terkait Mobil Volvonya
Senin, 5 Oktober 2026, 23.23 WITA

AI Dorong Transformasi Distribusi Informasi Publik
Senin, 5 Oktober 2026, 23.23 WITA

Polisi Prioritaskan Pemulihan Korban Penganiayaan ABK KM Maulana 23
Senin, 5 Oktober 2026, 23.23 WITA

Prabowo Sorakkan Gol Pertama Indonesia di Final ASEAN Cup
Senin, 5 Oktober 2026, 23.22 WITA

Dua Ekor Harimau Sumatra Lahir di Amerika, Jadi Langkah Bersejarah Konservasi
Senin, 5 Oktober 2026, 23.07 WITA

Harga Mobil Listrik di Indonesia Per Oktober 2026 Terus Meluas
Senin, 5 Oktober 2026, 23.06 WITA

Hybrid Toyota Harus Pakai BBM Oktan di Atas 90
Senin, 5 Oktober 2026, 23.06 WITA

