Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sepak Takraw: Seni Menendang Bola Rotan di Asia Tenggara

Sepak Takraw, olahraga tradisional Asia Tenggara yang menggabungkan tendangan akrobatik dan strategi tim, kini menjadi kompetisi resmi dengan aturan dan sejarah yang kaya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.56 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sepak Takraw: Seni Menendang Bola Rotan di Asia Tenggara
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Sepak Takraw lahir dari kebiasaan rakyat di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, sekitar lima abad lalu, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya olahraga di berbagai negara. Nama olahraga ini berasal dari gabungan kata “sepak” dalam bahasa Melayu yang berarti menendang, dan “takraw” dari bahasa Thailand yang merujuk pada bola rotan anyaman. Permainan ini awalnya dikenal sebagai Sepak Raga Jaring di Penang sejak 1945, ketika Hamid Mydin memperkenalkan net sebagai pemisah lapangan, membedakannya dari versi tradisional yang tidak menggunakan jaring.

Pada tahun 1960, pertandingan antara Malaysia dan Thailand di Kuala Lumpur menjadi momen penting dalam sejarah olahraga ini, saat nama “Sepak Takraw” resmi diterapkan. Sejak itu, olahraga yang sering disebut sebagai “voli tanpa tangan” ini berkembang pesat, menyebar ke Indonesia, Thailand, Filipina, dan negara-negara Asia lainnya. Di Indonesia, permainan ini dikenal dengan sebutan Sepak Raga, sementara di Filipina disebut Sipa, di Myanmar sebagai Chinlone, dan di Thailand dengan nama Takraw. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh tradisi Cuju, permainan kuno Tiongkok yang dianggap sebagai cikal bakal sepak bola modern.

Aturan permainan Sepak Takraw mengharuskan setiap tim terdiri dari tiga pemain dengan peran spesifik: Tekong (pemukul servis), Killer (penyerang utama), dan Feeder (pengumpan). Lapangan berukuran 13,4 meter x 6,1 meter, dibatasi net setinggi 1,52 meter untuk pemain pria dan sedikit lebih rendah untuk wanita. Bola yang digunakan terbuat dari rotan atau bahan sintetis, lebih ringan dan kecil dibanding bola sepak biasa. Pemain diperbolehkan menyentuh bola hanya dengan kaki, lutut, dada, bahu, dan kepala—larangan menyentuh bola dengan tangan menjadi aturan utama.

Skor dimulai dari nol, dan tim pertama yang mencapai 21 poin menang satu set. Jika skor mencapai 20-20, pertandingan berlanjut hingga salah satu tim unggul dua poin. Pelanggaran seperti double hit, bola keluar lapangan, menyentuh net, atau menggunakan bagian tubuh terlarang akan mengakibatkan kehilangan poin. Posisi pemain pada awal permainan juga diatur secara ketat: Tekong harus berdiri di dalam lingkaran servis, sementara dua rekan timnya berada dalam batas sudut seperempat lingkaran. Pemain penerima servis bebas menempatkan posisi di area mereka sendiri.

Kini, Sepak Takraw diatur secara global oleh Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF), yang dibentuk pada 1988. Olahraga ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga simbol keragaman budaya dan kerja sama antarbangsa di kawasan Asia Tenggara. Dengan kombinasi kecepatan, keakuratan, dan kerja tim, Sepak Takraw terus menarik minat generasi muda, menjadi bukti bahwa olahraga tradisional bisa tumbuh menjadi ajang internasional yang diakui secara resmi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya