Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.632 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.632 per dolar AS pada sore hari, menguat 0,05 persen dari perdagangan sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 19.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.632 per Dolar AS
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (8/9) sore menunjukkan penguatan ringan, berada di level Rp17.632 per dolar AS. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya berada pada posisi lebih rendah, dengan pergerakan menguat sebesar 8 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah fluktuasi mata uang Asia yang beragam, dengan beberapa mata uang seperti yen Jepang menguat dan won Korea Selatan stagnan.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,02 persen, peso Filipina melemah 0,03 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,40 persen, dolar Singapura turun 0,04 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen. Sementara itu, sejumlah mata uang utama negara maju juga mengalami pelemahan, termasuk euro Eropa yang turun 0,09 persen, poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, dolar Australia terkoreksi 0,12 persen, dolar Kanada melemah 0,09 persen, serta franc Swiss yang turun 0,27 persen.

Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa penguatan rupiah hari ini tetap terbatas. Ia menekankan bahwa pergerakan positif ini didorong oleh melemahnya dolar AS secara global, namun terhambat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia WTI yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Tekanan dari kenaikan harga komoditas ini menjadi faktor penekan utama terhadap rupiah.

Lukman juga mencatat bahwa pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam melakukan transaksi karena tidak adanya rilis data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung menunggu dan mengamati perkembangan lebih lanjut tanpa melakukan keputusan besar. Sikap wait and see ini menjadi dominan di pasar keuangan global, termasuk di pasar valuta asing di Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya