Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sisil, Empu Keris Perempuan dari Sumenep yang Lanjutkan Warisan Keluarga

Perempuan muda asal Sumenep, Sisil, kini menjadi salah satu dari sedikit empu keris perempuan yang aktif di Desa Aeng Tongtong, melanjutkan tradisi keluarga dengan penuh kesadaran filosofis dan profesionalisme.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.50 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Sisil, Empu Keris Perempuan dari Sumenep yang Lanjutkan Warisan Keluarga📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah kesibukan desa yang terkenal sebagai pusat pembuatan keris di Madura, Hashilatun Nasifah, akrab dipanggil Sisil, dengan tenang menjalani proses pembuatan keris di bengkel sederhana di depan rumahnya. Seorang perempuan berusia 25 tahun, ia memilih menempuh jalan yang langka: melanjutkan tradisi empu keris yang selama ini didominasi laki-laki. Setelah menyelesaikan pendidikan penerbangan di Sidoarjo, ia sempat bekerja di bandara sebagai petugas ticketing dan kargo, namun memutuskan kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan diri pada warisan keluarganya.

Sisil bukanlah baru belajar di tengah jalan. Sejak kecil, ia telah mengenal keris sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Namun, baru pada 2022, saat mulai belajar secara serius bersama ayahnya, Abdus Siddik, ia memahami secara mendalam proses pembuatan keris dari awal hingga akhir. Proses yang melibatkan penempaan logam, pembentukan bilah, penghalusan, hingga pewarangan untuk menciptakan pamor, membutuhkan ketelitian dan ketahanan fisik yang tinggi. Ia menyadari bahwa setiap tahapan bukan sekadar teknik, melainkan bentuk penghormatan terhadap tradisi dan nilai-nilai yang melekat pada keris.

Setiap keris yang dihasilkannya bukan sekadar produk, melainkan ekspresi filosofi dan harapan. Ia menekankan bahwa pamor seperti junjung drajat mengandung makna mendalam, yaitu doa agar manusia dapat meningkatkan martabatnya dalam kehidupan sosial dan spiritual. Meski mengakui tantangan fisik sebagai perempuan di bidang yang menuntut tenaga besar, ia menolak anggapan bahwa gender menjadi penghalang. Dukungan dari sesama empu di Aeng Tongtong, termasuk rekan laki-laki, membuat kerja sama berjalan harmonis dan saling melengkapi.

Dengan harga jual keris berkisar dari puluhan ribu hingga mencapai Rp20 juta untuk karya kelas menengah, serta ratusan juta untuk keris pusaka, Sisil melihat profesi ini bukan hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan. Ia berharap generasi muda, khususnya perempuan, dapat lebih mengenal keris bukan hanya sebagai benda kuno, tetapi sebagai warisan pengetahuan yang hidup dan relevan. Menurutnya, langkah pertama adalah mencintai dan memahami maknanya sebelum terjun ke dunia perkerisan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya