Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Spirulina, Makanan Kuno yang Kembali Dibangkitkan

Spirulina, mikroalga berwarna hijau-biru, telah menjadi sumber nutrisi sejak abad ke-16 di peradaban Aztek dan suku Kanembu, kini kembali dipromosikan global sebagai solusi pangan berkelanjutan dan superfood.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.19 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 92x dibuka
Spirulina, Makanan Kuno yang Kembali Dibangkitkan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Spirulina, bentuk mikroorganisme bersel tunggal berbentuk spiral, telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak zaman kuno. Dalam bentuk alami, ia tumbuh di danau-danau tropis dengan tingkat keasaman tinggi, kondisi yang menghambat pertumbuhan mikroba lain sehingga spirulina berkembang secara dominan. Jenis utamanya, Arthrospira platensis dan Arthrospira maxima, dikenal karena kandungan gizi yang sangat tinggi, termasuk protein hingga 70% dari berat kering, serta asam amino esensial, zat besi, beta-karoten, dan fikosianin sebagai antioksidan alami.

Penggunaan spirulina sebagai pangan telah tercatat dalam dua peradaban kuno yang berjauhan secara geografis. Di Meksiko, masyarakat Aztek pada abad ke-16 mengumpulkan spirulina dari Danau Texcoco, mengeringkannya, dan membentuknya menjadi kue berwarna hijau kekuningan bernama Tecuitlatl. Makanan ini menjadi sumber protein utama bagi pejuang dan penduduk lokal. Di Afrika Tengah, suku Kanembu di sekitar Danau Chad telah memanen spirulina secara turun-temurun, mengeringkannya di pasir hingga keras, lalu membentuknya menjadi Dihé yang dikonsumsi sebagai pelengkap sup atau sayuran.

Ketertarikan ilmiah terhadap spirulina dimulai pada tahun 1960-an ketika seorang ahli botani Prancis, Jean Leonard, meneliti Dihé di pasar-pasar tradisional Chad. Temuan menunjukkan bahwa spirulina memiliki komposisi nutrisi yang luar biasa, mampu menjawab kebutuhan gizi dasar dalam konteks kelaparan dan malnutrisi. Hasil penelitian ini menjadi dasar bagi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta World Health Organization (WHO) pada 1970-an untuk mendorong budidaya spirulina sebagai alternatif pangan global.

Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pangan bumi, tetapi juga menjangkau eksplorasi luar angkasa. NASA dan European Space Agency (ESA) menilai spirulina sebagai kandidat potensial untuk sistem pangan berkelanjutan di stasiun luar angkasa, karena kemampuannya tumbuh cepat, memproduksi oksigen, dan menyediakan nutrisi lengkap dalam ruang terbatas. Dengan keunggulan tersebut, spirulina kini tidak lagi sekadar makanan kuno, tetapi bagian dari strategi pangan masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya