Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Subsidi dan Kompensasi Energi Meningkat ke Rp700 Triliun Akibat Geopolitik

Kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik berpotensi menaikkan beban subsidi dan kompensasi energi dalam negeri hingga Rp700 triliun per tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.52 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Subsidi dan Kompensasi Energi Meningkat ke Rp700 Triliun Akibat Geopolitik
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Tingginya volatilitas harga energi dunia akibat ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan fiskal negara. Wakil Menteri ESDM menyatakan bahwa tekanan fiskal akan semakin besar jika tidak diantisipasi dengan langkah strategis, terutama dalam memperkuat ketersediaan energi baru dan terbarukan. Saat ini, beban subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai sekitar Rp400 triliun per tahun, tetapi ancaman dari pergeseran pasar global bisa menambah beban tersebut hingga Rp300 triliun lagi.

Dampak dari ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran, serta konflik di Ukraina yang belum menunjukkan tanda penyelesaian, telah mengganggu rantai pasok energi global. Hal ini berpotensi mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar, listrik, dan LPG dalam negeri, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap inflasi dan biaya produksi industri. Kenaikan tersebut bukan hanya soal harga, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi makro dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam paparannya di acara EBTKE Conex di JIExpo Kemayoran, pihak Kementerian ESDM menegaskan bahwa tanpa perencanaan matang, kenaikan harga energi global dapat menggerus kemandirian energi nasional. “Jika kita tidak mengantisipasi dengan memperluas pemanfaatan energi terbarukan, maka beban subsidi dan kompensasi yang saat ini Rp400 triliun bisa melonjak hingga Rp700 triliun,” tegasnya. Pernyataan ini menekankan urgensi transisi energi sebagai solusi jangka panjang.

Peningkatan anggaran tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan APBN, terutama jika tidak diimbangi dengan efisiensi dan pengembangan sumber energi lokal. Kebijakan yang seimbang antara perlindungan konsumen dan keberlanjutan fiskal menjadi kunci. Pemerintah terus mendorong percepatan investasi di sektor energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan risiko kenaikan subsidi di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya