Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sukuk RI Diburu Investasi Global, BI Sebut Momentum Tumbuh

Penerbitan sukuk syariah Indonesia, termasuk Green Sukuk, menunjukkan tren kuat di pasar global dengan total capaian US$7,7 miliar, sejalan dengan permintaan investor asing terhadap instrumen berbasis aset dan berkelanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 21.06 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 30x dibuka
Sukuk RI Diburu Investasi Global, BI Sebut Momentum Tumbuh📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam pasar keuangan syariah global, seiring meningkatnya minat investor internasional terhadap sukuk negara. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa instrumen keuangan berbasis syariah kini menjadi pilihan favorit bagi pelaku pasar dunia, terutama dalam konteks ketidakpastian ekonomi global. Keunggulan sukuk yang didukung oleh aset nyata menjadi faktor utama yang menarik perhatian investor global.

Sukuk yang diterbitkan secara global kini menjadi strategi utama pemerintah untuk memperluas akses pasar dan diversifikasi pembiayaan. Destry menyebut bahwa tren ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi investor, yang kini lebih memilih produk keuangan dengan dasar aset dan karakteristik stabilitas tinggi. Ia menekankan bahwa produk syariah tidak hanya diminati negara-negara muslim, tetapi juga menarik perhatian pelaku pasar dari Eropa dan Amerika Serikat yang melihatnya sebagai instrumen investasi berkelanjutan (sustainable).

Capaian penerbitan Green Sukuk Indonesia telah mencapai angka US$7,7 miliar di pasar internasional sejak 2018, sementara di dalam negeri nilainya mencapai Rp108,9 triliun. Angka ini menjadi bukti nyata berkembangnya ekosistem keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah terus mendorong inovasi produk untuk memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh, termasuk dengan memperluas jenis sukuk yang tersedia.

Dalam konteks domestik, pembiayaan syariah telah menyerap Rp108,9 triliun, atau setara 20,29% dari total outstanding Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.962,39 triliun per 30 September 2026. Destry menilai angka ini masih memiliki ruang pengembangan signifikan, terutama dengan keterlibatan lebih luas dari kementerian dan lembaga terkait dalam merancang produk-produk syariah yang lebih beragam dan responsif terhadap dinamika pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya