Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Super El Nino Ancam Kehidupan dan Ekonomi Hingga 2027

El Nino intensif diproyeksikan bertahan hingga Februari 2027, memicu krisis kesehatan, pangan, dan ekonomi di berbagai wilayah, termasuk Indonesia yang berpotensi kehilangan 19.300 jiwa akibat panas ekstrem.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Super El Nino Ancam Kehidupan dan Ekonomi Hingga 2027📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Fenomena El Nino yang kini mengalami peningkatan ekstrem diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2027, dengan probabilitas hampir 100 persen menurut laporan terbaru dari organisasi meteorologi global. Indeks Nino 3.4 telah mencapai 2,5 derajat Celsius pada Agustus, mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga melewati angka 3,0 derajat Celsius dalam beberapa bulan mendatang. Kenaikan suhu permukaan laut ini telah menjadi pemicu utama cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah Indonesia yang mengalami kekeringan berkepanjangan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan serta lahan.

Studi dari Climate Impact Lab di Universitas Chicago memproyeksikan dampak kematian akibat panas ekstrem selama periode El Nino ini mencapai 451.000 jiwa secara global. Indonesia menempati posisi kedua dalam kerentanan, dengan perkiraan 19.300 kematian, di bawah Nigeria yang diperkirakan kehilangan 31.400 jiwa. Risiko tinggi ini didasarkan pada data historis yang menghubungkan kenaikan suhu dengan angka kematian, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan bayi. Para peneliti menekankan bahwa angka ini belum termasuk kematian akibat bencana turunan seperti kekeringan, kebakaran, atau banjir.

Di sektor ekonomi, dampak El Nino berpotensi memicu krisis pangan dan inflasi. Analisis dari para ahli di ITB menunjukkan penurunan produktivitas pertanian selama periode El Nino 2015–2016 dan 2023–2024, yang mengancam pasokan beras dan memicu kenaikan harga. Jika fenomena ini berlangsung hingga awal 2027, maka jadwal tanam musim hujan 2026/2027 terancam terganggu, berdampak pada panen dan stabilitas harga pangan. Di sisi lain, penelitian dari UGM mengungkap bahwa suhu tinggi mengurangi produktivitas kerja, karena panas menyebabkan pekerja mengalami penurunan konsentrasi, reaksi lambat, dan penurunan akurasi dalam pengambilan keputusan.

Dampak jangka panjang El Nino juga mengancam stabilitas sosial dan ekonomi, terutama di negara berkembang seperti di Asia Tenggara. Ekonom dari Asian Development Blog mencatat bahwa petani miskin di pedesaan bisa terdampak parah, dengan sejumlah keluarga terpaksa menjual ternak, mengonsumsi cadangan beras, atau menarik anak dari sekolah demi bertahan hidup. Hal ini berpotensi memperpanjang siklus kemiskinan dan menurunkan produktivitas ekonomi jangka panjang. Faktor-faktor eksternal seperti utang publik yang tinggi, konflik geopolitik, dan gangguan logistik juga memperburuk keterpapuan terhadap risiko iklim ini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya