Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tembakau Beri Harapan Ekonomi Petani Wonogiri Saat Musim Kering

Petani di Wonogiri memanfaatkan musim kemarau untuk menanam tembakau, didukung kemitraan dengan perusahaan yang memberi pendampingan teknis dan pelatihan berkelanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.32 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
Tembakau Beri Harapan Ekonomi Petani Wonogiri Saat Musim Kering📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah keterbatasan air selama musim kemarau, petani di Wonogiri menemukan solusi produktif melalui budidaya tembakau. Tanaman ini menjadi alternatif strategis karena tidak memerlukan intensitas irigasi tinggi, memungkinkan lahan tetap dimanfaatkan saat tanaman pangan lain terhambat. Keberhasilan ini didukung oleh kemitraan berkelanjutan antara petani dan pihak industri melalui sistem pendampingan terstruktur.

Hingga saat ini, lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih telah terlibat dalam program pendampingan yang menekankan prinsip pertanian berkelanjutan. Melalui penerapan Praktik Pertanian yang Baik (GAP), petani dibekali pengetahuan mulai dari pembibitan, pemupukan tepat, pengelolaan air secara efisien, hingga penanganan pasca panen. Pendampingan lapangan menjadi kunci utama dalam memastikan setiap tahapan budidaya dilakukan sesuai standar, sehingga kualitas hasil panen terjaga dan produktivitas meningkat.

Ketika seorang petani bernama Katino memutuskan beralih dari pekerjaan sebagai sopir truk ke budidaya tembakau pada 2019, ia tidak memulainya dari nol. Dengan bimbingan langsung dari pendamping lapangan, ia belajar secara bertahap, mulai dari cara menyemaikan benih, mengatur waktu tanam, hingga teknik pemupukan yang efektif. Pengalaman itu mengubah pola pikirnya: dari sekadar menanam, kini ia memandang pertanian sebagai bisnis yang perlu perencanaan dan pengelolaan yang baik.

Purwanto, petani lain yang kembali dari Jakarta setelah bekerja di perusahaan swasta, juga mengalami transformasi serupa. Ia mulai menanam tembakau saat musim kering, lalu terus berkembang melalui pendampingan yang mencakup seluruh siklus pertanian. Hasilnya, pendapatan dari tembakau kini menjadi sumber dana utama untuk mempersiapkan tanam padi di musim hujan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga—dari rumah kayu sederhana menjadi bangunan permanen.

Kemitraan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan perorangan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal. Hasil panen tembakau digunakan untuk membeli kendaraan, memperluas lahan, bahkan mempekerjakan tenaga kerja. Semua ini membuktikan bahwa pertanian bukan hanya sektor subsisten, tetapi juga ruang peluang ekonomi yang dapat dibangun secara sistemik dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya