Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tim Pemakaman Hadapi Ancaman Saat Tangani Jenazah Ebola

Petugas pemakaman di Ituri, DRC, terus berjuang mengatasi tekanan fisik, emosional, dan ancaman dari keluarga korban saat menangani jenazah Ebola di tengah wabah yang meluas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Tim Pemakaman Hadapi Ancaman Saat Tangani Jenazah Ebola
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah meluasnya wabah Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, tim pemakaman menjadi garda terdepan dalam upaya memutus rantai penularan. Mereka bertugas menggali kuburan, menyiapkan jenazah, dan menjamin prosesi pemakaman berlangsung aman tanpa risiko infeksi. Namun, pekerjaan yang krusial ini justru membawa mereka berhadapan langsung dengan kemarahan dan kesedihan keluarga korban yang tidak bisa melaksanakan tradisi pemakaman secara utuh.

Setiap hari, para petugas menerima bayaran sekitar US$20 untuk bekerja dalam kondisi ekstrem—kelelahan fisik, ancaman infeksi, serta sering kali menghadapi serangan emosional dari kerabat almarhum. Yuma Adolphe, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa meski merasa terbebani, mereka terus berusaha melampaui batas kemampuan demi keselamatan masyarakat. Ia menekankan bahwa tugas ini bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tanggung jawab moral dalam kondisi krisis kesehatan.

Keluarga korban, seperti ibu dari Justine Habineno, 36 tahun, yang meninggal akibat virus, merasa terluka karena dilarang menyentuh jenazah atau mengikuti ritual keagamaan dan budaya. Sofia Wanito, ibu korban, menceritakan betapa sulitnya melihat anaknya dari jendela rumah sakit tanpa bisa menyelimuti atau memberikan penghormatan terakhir. Perasaan kehilangan yang mendalam ini sering kali berubah menjadi kemarahan terhadap petugas yang dianggap memisahkan keluarga dari almarhum.

Di wilayah yang dilanda konflik bersenjata dan sistem kesehatan yang terbatas, penanganan wabah semakin kompleks. Pergerakan penduduk yang tinggi dan ketidakpastian sosial memperparah penyebaran. Benjamin Muhindo, petugas lain, mengungkapkan bahwa keluarganya khawatir ia membawa virus pulang ke rumah, tetapi ia tetap bertahan karena menyadari pentingnya peran mereka. “Kami bekerja di bawah tekanan, berpacu dengan waktu, dan tidak punya pilihan selain hadir untuk melindungi komunitas,” ujarnya.

Pemerintah setempat, melalui penasihat gubernur militer untuk kesehatan dan kemanusiaan, Jeanne Alasha, menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap petugas pemakaman dapat dikenai sanksi hukum. Namun, solusi jangka panjang tetap menuntut pendekatan yang lebih sensitif terhadap aspek budaya dan emosional masyarakat. Upaya penanganan wabah harus menyentuh akar masalah kepercayaan dan trauma, bukan hanya aspek medis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya