Tim Pemakaman Hadapi Ancaman Saat Tangani Jenazah Ebola
Petugas pemakaman di Ituri, DRC, terus berjuang mengatasi tekanan fisik, emosional, dan ancaman dari keluarga korban saat menangani jenazah Ebola di tengah wabah yang meluas.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.33 WITA·👁 6 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Di tengah meluasnya wabah Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, tim pemakaman menjadi garda terdepan dalam upaya memutus rantai penularan. Mereka bertugas menggali kuburan, menyiapkan jenazah, dan menjamin prosesi pemakaman berlangsung aman tanpa risiko infeksi. Namun, pekerjaan yang krusial ini justru membawa mereka berhadapan langsung dengan kemarahan dan kesedihan keluarga korban yang tidak bisa melaksanakan tradisi pemakaman secara utuh.
Setiap hari, para petugas menerima bayaran sekitar US$20 untuk bekerja dalam kondisi ekstrem—kelelahan fisik, ancaman infeksi, serta sering kali menghadapi serangan emosional dari kerabat almarhum. Yuma Adolphe, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa meski merasa terbebani, mereka terus berusaha melampaui batas kemampuan demi keselamatan masyarakat. Ia menekankan bahwa tugas ini bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tanggung jawab moral dalam kondisi krisis kesehatan.
Keluarga korban, seperti ibu dari Justine Habineno, 36 tahun, yang meninggal akibat virus, merasa terluka karena dilarang menyentuh jenazah atau mengikuti ritual keagamaan dan budaya. Sofia Wanito, ibu korban, menceritakan betapa sulitnya melihat anaknya dari jendela rumah sakit tanpa bisa menyelimuti atau memberikan penghormatan terakhir. Perasaan kehilangan yang mendalam ini sering kali berubah menjadi kemarahan terhadap petugas yang dianggap memisahkan keluarga dari almarhum.
Di wilayah yang dilanda konflik bersenjata dan sistem kesehatan yang terbatas, penanganan wabah semakin kompleks. Pergerakan penduduk yang tinggi dan ketidakpastian sosial memperparah penyebaran. Benjamin Muhindo, petugas lain, mengungkapkan bahwa keluarganya khawatir ia membawa virus pulang ke rumah, tetapi ia tetap bertahan karena menyadari pentingnya peran mereka. “Kami bekerja di bawah tekanan, berpacu dengan waktu, dan tidak punya pilihan selain hadir untuk melindungi komunitas,” ujarnya.
Pemerintah setempat, melalui penasihat gubernur militer untuk kesehatan dan kemanusiaan, Jeanne Alasha, menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap petugas pemakaman dapat dikenai sanksi hukum. Namun, solusi jangka panjang tetap menuntut pendekatan yang lebih sensitif terhadap aspek budaya dan emosional masyarakat. Upaya penanganan wabah harus menyentuh akar masalah kepercayaan dan trauma, bukan hanya aspek medis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Seorang penyintas serangan di gereja Ortodoks Yunani di Karak menggambarkan detik-detik pelaku menodongkan senjata ke arahnya saat ibadah berlangsung, menyebabkan delapan tewas dan 40 luka-luka.
25 Oktober 2026

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Richard Lee menanggapi penangguhan penahanan dengan menyatakan tidak akan meladeni serangan lawan dengan logika semata, mengikuti nasihat guru dan sahabatnya.
25 Oktober 2026

DEN Bahas Usulan Perubahan Definisi Korupsi
Menko Hukum, HAM, dan Imigrasi Yusril Ihza Mahendra siap hadir dalam rapat DEN untuk membahas wacana perubahan definisi korupsi berbasis UNCAC.
25 Oktober 2026

Pengemudi BYD yang Tabrak Ojol di Jaksel Dinyatakan Bersih dari Narkoba
Hasil tes urine dan alkohol terhadap pengemudi BYD di Jaksel menunjukkan negatif, sementara korban mengalami patah kaki dan dirawat di rumah sakit.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

OpenAI Perkuat Riset Farmasi Lewat Akuisisi Startup AI
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

