Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Timah Perkirakan Laba Semester II Lebih Tinggi

Laba bersih PT Timah diproyeksikan menyamai atau melampaui semester I-2026, didukung harga timah yang stabil dan dukungan kebijakan tata kelola pertambangan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Timah Perkirakan Laba Semester II Lebih Tinggi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Manajemen PT Timah (Persero) Tbk menyampaikan keyakinan bahwa laba bersih pada semester kedua tahun ini dapat mencapai level yang setara atau bahkan lebih tinggi dibanding semester pertama, berkat kondisi harga logam timah yang tetap kuat di pasar global. Peningkatan tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2026 yang diharapkan mendorong perbaikan tata kelola pertambangan dari hulu hingga hilir, terutama di wilayah operasi Belitung.

Biaya produksi per metrik ton hingga semester I-2026 tercatat sebesar US$ 22.435. Meski diperkirakan naik menjadi kisaran US$ 23.000–24.000 pada akhir tahun, manajemen menegaskan bahwa margin tetap terjaga karena kenaikan harga jual timah jauh lebih signifikan dibanding kenaikan biaya, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak, bahan baku, dan suku cadang. Peningkatan biaya ini tidak mengurangi daya saing perusahaan dalam kondisi pasar yang dinamis.

Investasi modal (CAPEX) tahun ini ditargetkan sebesar Rp 446 miliar, dengan alokasi 90% untuk operasi produksi dan eksplorasi, serta 10% untuk kegiatan nonrutin seperti transformasi sistem ERP dari ECC 6 ke SAP S/4HANA. Dari sisi permintaan global, konsumsi hingga Juli 2026 mencapai 179 ribu ton, sedangkan produksi pada semester pertama baru mencapai 173 ribu ton, menunjukkan defisit sekitar 3%. Proyeksi harga timah tetap stabil di kisaran US$ 47.000–55.000 per ton hingga akhir 2026 dan seterusnya, mengingat belum ada ekspansi kapasitas besar dari produsen utama dunia.

Konsumsi dalam negeri masih terbatas, berkisar antara 4.000 hingga 5.000 ton per tahun, yang menunjukkan potensi besar bagi pengembangan industri berbasis mineral timah. Manajemen menekankan pentingnya mempercepat industrialisasi, tidak hanya pada hilirisasi, tetapi juga pemanfaatan dalam sektor strategis seperti semikonduktor, laptop, komputer, dan perangkat mobile.

Untuk proyek logam tanah jarang, Perseroan masih berada dalam tahap riset dan pengembangan, dengan fokus pada identifikasi cadangan di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Bangka Belitung. Saat ini terdapat tiga calon mitra teknologi yang sedang diproses, bekerja sama dengan PERMINAS dan Badan Investasi Mineral, lembaga yang ditunjuk pemerintah. Targetnya, mitra pengelola tanah jarang akan terbentuk pada 2026, sementara monetisasi proyek baru akan dibahas setelah hasil validasi cadangan, teknologi, dan anggaran modal disepakati bersama mitra.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya