Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Transaksi Besar Saham BBCA Memicu Isu Akuisisi

Transaksi negosiasi saham BBCA senilai Rp1,35 triliun dalam tiga hari menimbulkan spekulasi akuisisi, yang dibantah perusahaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Transaksi Besar Saham BBCA Memicu Isu Akuisisi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar modal mencatat aktivitas mencolok pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam sepekan terakhir, dengan empat kali transaksi negosiasi besar yang terjadi pada Kamis hingga Senin. Total nilai transaksi mencapai Rp1,35 triliun, melibatkan 2,18 juta lot saham, bergerak di kisaran harga Rp6.100 hingga Rp6.200 per lembar. Volume besar ini terjadi secara bertahap, dengan puncak pada Senin saat nilai transaksi mencapai Rp710,4 miliar untuk 1,1 juta lot, menunjukkan aktivitas yang signifikan di pasar tertentu.

Kegiatan ini muncul di tengah peredaran isu di media sosial yang menyebut pengusaha Andi Syamsudin Arsyad, akrab disapa Haji Isam, sedang merencanakan akuisisi saham mayoritas di BBCA. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait, spekulasi tersebut memperkuat narasi bahwa perubahan kepemilikan bisa terjadi, mengingat sebelumnya isu serupa pernah muncul sebelum akuisisi saham perusahaan lain terkonfirmasi secara resmi.

Menanggapi hal tersebut, perusahaan secara tegas membantah kabar tersebut. Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan Jumat, pihak BBCA menegaskan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi atau akuisisi adalah tidak benar. Perusahaan menegaskan bahwa seluruh operasionalnya tetap berjalan sesuai prinsip kehati-hatian, integritas, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di bidang perbankan dan pasar modal.

Pihak manajemen juga mengimbau masyarakat dan investor untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak terverifikasi. Mereka menekankan pentingnya mengakses data dan berita dari sumber resmi, seperti situs web perusahaan atau media yang telah teruji kredibilitasnya. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran hoaks dan menjaga stabilitas pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya